Sabtu, 04 Juni 2016

Sejarah dan Faktor Pemalsuan Hadits

SEJARAH DAN FAKTOR PEMALSUAN HADITS
Makalah
Disusun  untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Pengantar Ulumul Hadis



Perbandingan Agama kelas A semester 1
Dosen Pembimbing : Hasanuddin, M. A.
Disusun oleh kelompok 11 :
                Ulul Albabi                      ( 11140321000001 )
                Adiba Zahrotul Wildah   ( 11140321000025 )
                Syamsul Arifin                ( 11140321000034 )



JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014


KATA PENGANTAR


            Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat, karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Sejarah dan Pemalsuan Hadits”.
            Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ulumul Hadits. Selain itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa dalam menyusun karya tulis.
            Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian demi memperbaiki  makalah ini untuk penulisan lain di kemudian hari.
            Dan semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua. Sekian dan terimakasih.



Ciputat, 20 Oktober 2014

         Penulis

  
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................  i
KATA PENGANTAR ................................................................................................  ii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................  iii  
BAB I      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah .....................................................................  1
B.    Rumusan Masalah ................................................................................  1
C.    Tujuan Penulisan .................................................................................  1
BAB II    PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hadits Maudhu’ ................................................................  2
B.     Sejarah Hadits Maudhu’ .....................................................................  2
C.    Faktor Pemalsuan Hadits ....................................................................  6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ...........................................................................................  8
B.     Saran .....................................................................................................  8
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................  9



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Ketika umat Islam masih bersatu dibawah pimpinan empat khalifah Rasyidin, belum bermunculan golongan-golongan yang dimasuki pihak-pihakyang tidak bertanggung jawab, dimana terdapat ulama-ulama yang fanatik golongan yang menciptakan hadits-hadits palsu. Pemalsuan hadits secara umum sudah muncul pada akhir masa kekhalifahan Ali binAbi Thalib, khususnya setelahterjadimya peristiwa arbitrase antara pihak Ali dan Muawiyah yang berakibat terjadinya perpecahan golongan di dalam umat Islam yang memicu munculnya hadits-hadits palsu demi kepentingan golongan. Dengan banyaknya hadits-hadits palsu tersbut, para ulama muhaditsin melakukan upaya (ijtihad) dalam menyeleksi hadits yaitu mana yang datang dari Nabi SAW. dan mana yang hadits maudhu’ (palsu) 

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Apa Pengertian dari Hadits Maudhu’?
2.      Bagaimana Sejarah Munculnya Hadits Maudhu’?
3.      Apa Sajakah Faktor Pemalsuan Hadits (Hadits Maudhu’)?

C.    Manfaat Masalah
Manfaat dari masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui Pengertian dari Hadits Maudhu’
2.      Untuk mengetahui Sejarah Munculnya Hadits Maudhu’
3.      Untuk mengetahui Faktor Pemalsuan Hadits (Hadits Maudhu’)


 
 

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Hadits Maudhu’ 
Ditinjau secara bahasa, hadits maudhu’ atau hadits palsu merupakan bentuk isim maf’ul dari يضع – وضع. Kata ‘وضع’ memiliki beberapa makna, antara lain ‘menggugurkan’, misalnya kalimat وضع الجناية عنه (hakim menggugurkan hukuman dari seseorang). Juga bermakna ‘الثرك’ (meninggalkan), misalnya ungkapan موضوعة ابل (unta yang ditinggalkan di tempat pengembalaannya). Selain itu, juga bermakna  الافتراء و الاختلاق (mengada-ada dan membuat-buat), misalnya kalimat وضع فلان هذه القصة  (Fulan membuat pengada-ngadaan kisah itu).[1]
Adapun pengertian hadits maudhu’ menurut istilah para muhaditsin adalah:
هو ما نسب الى رسول الله صلى الله عليه وسلم اختلاقا وكذبا مما لم يقله او يفعله او يقره
“Sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Secara mengada- ada dan dusta, yang tidak beliau sabdakan, beliau kerjakan ataupun beliau taqrirkan.”
Dari pengertian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hadits maudhu’ adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW., baik perbuatan, perkataan maupun taqrir-nya, secara rekaan atau dusta semata-mata. Dalam penggunaan masyarakat Islam, hadits maudhu’ juga disebut hadits palsu.

B.     Sejarah Hadits Maudhu’

2
 
Pada zaman Nabi SAW., ketika beliau masih hidup, pemalsuan hadits tampaknya belum terjadi. Ini wajar, karena masyarakat pada waktu itu bisa langsung mengklarifikasi apabila ada berita yang mengatas namakan beliau. Cikal bakal timbulnya pemalsuan hadits ini, bisa dilacak dari informasi yang  disampaikan oleh Imam Muhammad bin Sirin (3-110 H). Dia menuturkan, “Pada mulanya, umat Islam bila mendengar sabda Nabi SAW., berdirilah bulu roma mereka, namun setelah terjadinya fitnah (terbunuhnya Utsman bin Affan), bila mendengar hadits, mereka selalu bertanya, dari manakah hadits itu diperoleh? Bila diterima dari orang Ahli Sunnah, maka hadits itu diterima sebagai dalil dalam agama Islam. Tetapi bila didapat dari penyebar bid’ah maka hadits itu ditolak.[2]
Selama umat Islam masih bersatu dibawa pimpinan empat khalifah Rasyidah, sebelum mereka terbagi kedalam berbagai aliran dan sebelum mereka disusupi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, hadits Nabi SAW. masih murni, tak termasuki kedustaan sama sekali. Ketegangan yang terjadi antara Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib ra. dan Gubernur Syam Mua’awiyah ibn Abu Sufyan ra. memiliki dampak besar terhadap pecahnya umat dan kemunculan berbagai aliran keagamaan dan politik. Masing-masing ingin melegitimasi pendapatnya dengan Al-Qur’an dan as- Sunnah. Yang jelas, mereka tidak akan menemukan teks yang tegas untuk mengukuhkan pendapatnya masing-masing, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Oleh karena itu, sebagian mereka mencoba menta’wilkan Al-Qur’an dan menafsirkan hadis-hadis dengan pengertian yang sebenarnya tidak dikandungnya. Dan ketika sebagian dari mereka tidak menemukan apa yang mereka cari, karena banyaknya pakar yang menghafal Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka mereka mencoba untuk berlari kepada pola pemalsuan dan pendustaan atas diri Rasulullah SAW. Sejak itu, muncullah hadis-hadis tentang keutamaan Khalifah Rasyidah yang empat dan yang lain dari para pemimpin dan para pemuka aliran, di samping muncul hadis-hadis yang secara tegas menyatak pengukuhan atas kelompok-kelompok politik dan aliran-aliran keagamaan serta yang lainnya.[3]
Tahun 40 H merupakan batas yang memisahkan masa antara masa terlepas hadits dari pemalsuan dengan masa mulai munculnya pemalsuan hadits. Sejak timbul fitnah di akhir masa Utsman, umat Islam pecah menjadi beberapa golongan. Pertama, golongan Ali Ibn Thalib, yang kemudian dinamakan golongan Syi'ah. Kedua, golongan Khawarij, yang menentang Ali dan Muawiyah. Ketiga, golongan Jumhur (golongan pro pemerintah pada masa itu).[4]
Umat Islam terpecah kedalam golongan-golongan tersebut. Karena didorong kepentingan golongan, mereka berupaya mendatangkan keterangan (hujjah) untuk mendukung keberadaan mereka. Maka mereka berupaya untuk membuat hadits-hadits palsu dan menyebarkannya ke masyarakat.[5]
Mulai saat itu terdapatlah di antara riwayat-riwayat itu ada yang shahih dan ada yang palsu. Dan kian hari kian bertambah banyak dan beraneka pula. Mula-mula mereka memalsukan hadits mengenai pribadi-pribadi orang yang mereka agung-agungkan. Yang mula-mula melakukan pekerjaan saat ini ialah golongan Syi’ah sebagaimana yang diakui sendiri oleh Ibnu Abi al-Hadid, seorang ulama Syi’ah dalam kitabnya Syarh Nahju al-Balaghah. Dia menulis, “Ketahuilah bahwa asal mula timbul hadits yang menerangkan keutamaan pribadi-pribadi adalah dari golongan Syi’ah sendiri”. Perbuatan mereka ini ditandingi oleh golongan Sunnah (Jumhur) yang bodoh-bodoh. Mereka juga membuat hadits untuk mengimbangi hadits-hadits yang dibuat oleh golongan Syi’ah itu.[6]
Maka dengan keterangan ringkas ini nyatalah bahwa kota yang mula-mula mengembangkan hadits-hadits palsu (maudhu’) ialah Bahgdad (Iraq) tempayt kaum Syi’ah berpusat. Imam az-Zuhry berkata, “Hadits keluar dari kami sejengkal lalu kembali kepada kami dari Iraq, sehasta.” Imam Malik sendiri menamakan Baghdad sebagai “Pabrik Hadits Palsu.”[7]  
Masuknya secara missal penganut agama lain ke dalam Islam, yang merupakan keberhasilan dari dakwah Islamiyah ke seluruh pelosok dunia, secara tidak langsung menjadi faktor munculnya hadits-hadits palsu. Kita tidak bisa menafikan bahwa masuknya mereka ke Islam, di samping ada yang benar-benar ikhlas tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa oleh para da’i ada juga segolongan mereka menganut agama Islam hanya karena terpaksa tunduk pada kekuasaan Islam pada waktu itu. Golongan ini kita kenal dengan kaum munafik.
Golongan munafik tersebut senantiasa menyimpan dendam dan dengki terhadap Islam dan penganutnya. Mereka senantiasa menunggu peluang yang tepat untuk merusak dan menimbulkan keraguan dalam hati orang-orang Islam.[8]
Para pembuat hadits maudlu’, dalam menjalankan tugasnya, kadang-kadang mengambil dari pikiran sendiri semata-mata, dan kadang-kadang menukil dari perkataan orang-orang yang ‘Alim pada waktu atau perkataan orang ‘Alim mutaqoddimin. Misal hadits maudlu’ yang dinukil dari perkataan orang-orang mutaaqaddimin, ialah:
حبد النيا راس كل خطيئة
(Cinta keduniaan ialah modal kesalahan).
Perkataan ini sesungguhnya adalah perkataan Malik Dinar, tetapi oleh pembuat hadits maudlu’ dibangsakan (didakwakan) kepada sabda Nabi Muhammad SAW.[9]
Berdasarkan catatan sejarah, pemalsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam saja, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang non Islam. Orang-orang non Islam membuat hadits-hadits palsu, karena didorong oleh keinginan untuk meruntuhkan Islam. Dorongan ini yang sering terjadi di kalangan orientalis. Tidak dipungkiri, kajian mereka seputar hadits, tampaknya lebih banyak didorong oleh motivasi ini, dari pada atas dasar penelitan ilmiah.
Berbagai pemalsuan tersebut telah menyulitkan umat Islam yang ingin mengetahui berbagai riwayat hadits yang sahih. Untungnya, para ulama hadits menyusun berbagai kaidah dalam ilmu hadits yang secara ilmiah dapat digunakan untuk meneliti hadits. Dengan kaidah-kaidah ini, bisa dibedakan, mana hadis-hadis yang bisa diterima (maqbul) dan ditolak (mardud). Berbagai kaidah ilmu hadis yang dibuat oleh para ulama telah didokumentasikan dalam berbagai kitab. Upaya mereka dalam membuat berbagai kaidah dalam ilmu ini, juga telah mampu meneliti secara akurat terhadap berbagai riwat hadits, apakah benar-benar dari Nabi SAW. atau bukan.
Dengan telah terjadinya berbagai pemalsuan hadis, pada gilirannya menyebabkan kegiatan penelitian menjadi sangat penting untuk dilakukan. Tanpa dilakukan penelitian ini, maka hadits Nabi SAW. akan bercampur aduk dengan yang bukan hadits. Pada akhirnya, akan lahir ajaran-ajaran bukan Islam yang bisa menyesatkan umat Islam.[10]

C.    Faktor Pemalsuan Hadits
Dilihat dari garis besarnya ada beberapa faktor pemalsuan hadits, antara lain :
1.      Pertentangan Politik dalam Soal Pemilihan Khalifah
            Setelah terjadinya pembunuhan atas Khalifah Utsman bin Affan ra. oleh para pemberontak dan kemudian digantikan oleh Khalifah Ali bi Abi Thalib ra. Umat Islam mereka membuat hadits palsu (maudhu’).
2.      Adanya Kesengajaan dari Pihak Lain untuk Merusak Ajaran Islam
            Golongan ini adalah terdiri dari golongan Zindiq, Yahudi, Majusi, dan Nashrani yang senantiasa menyimpan dendam terhadap agama Islam. Mereka tidak mampu melawan kekuatan Islam secara terbuka maka mereka mengambil jalan yang buruk ini.
3.      Mempertahankan Madzhab dalam Masalah Fiqh dan Masalah Kalam
            Para pengikut madzhab fiqh dan pengikut ulama kalam, yang bodoh dan dangkal ilmu agamanya, membuat pula hadits-hadits palsu untuk menguatkan paham pendirian imamnya.
4.      Membangkitkan Jiwa Beribadah untuk Mendekatkan Diri kepa Allah
            Mereka membuat hadits-hadits palsu untuk menarik orang-orang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
5.      Menjilat Para Penguasa untuk Mencari Kedudukan atau Hadiah
            Ulama-ulama su’ membuat hadits palsu ini untuk membenarkan perbuatan-perbuatan para penguasa sehingga dari perbuatannya tersebut, mereka mendapat upah dengan diberi kedudukan atau harta.

Adapun golongan-golongan yang memalsukan hadits yaitu :
1.      Zanadiqoh (orang-orang Zindiq)
2.      Penganut-penganut bid’ah
3.      Orang-orang yang dipengaruhi fanatik kepartaian, orang-orang yang ta’ashshub kepada kebangsaan, kenegerian, dan keimanan
4.      Orang-orang dipengaruhi ta’ashshub mazhab
5.      Para qushshash (ahli riwayat atau dongeng)
6.      Para ahli tasawuf zuhhad yang keliru
7.      Orang-oranng yang mencari penghargaan pembesar negeri
8.      Orang-oraang yang ingin memegahkan dirinya dengan dapat meriwayatkan hadits-hadits yang tidak diperoleh orang lain.[11]




BAB III
P E N U T U P

A.    Kesimpulan
Berdasarkan makalah yang kami susun kami menyimpulkan bahwa Hadis Maudhu adalah hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw secara mengada- ngada atau membuat-buat, dengan kata lain mengatasnamakan buatan tersebut datangnya dari rasul. Hadis Maudhu mulai hadir setelah terjadinya peristiwa arbitrase antara Ali bin abi Tholib dengan Muawiyah dan Abi Sofyan yang ditandai dengan terpecahnya umat Islam menjadi beberpa golongan.

B.     Saran
Demikian penjelasan dari kami mengenai Sejarah dan Pembukuan Hadits. Semoga apa yang telah kami jelaskan tadi, bermanfa’at untuk kita semua. Satu hal yang perlu kita ketahui bersama bahwa Hadits adalah sunnah Rasul yang mana kami ketahui bahwa Rasul adalah utusan Allah SWT. Maka dari itu, kami mengajak kepada kita semua untuk selalu meningkatkan kualitas pemahaman kita terhadap Hadits supaya kita tahu mana yang hadits shahih dan mana yang hadits maudhu’.
Akhir kata, Haadzaa Wallaahu Yar’aana Wa Yahfazhunaa Walhamdulillaahirabbil ‘aalamiin.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj. 2013. Ushul Al-Hadits. Jakarta : Gaya Media Pratama.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2012. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra.
Hassan, A. Qadir. 2002. Ilmu Mushthalah Hadits. Bandung : CV. Penerbit Diponegoro.
Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahul Hadits.______________________________
Rifa’I, Zuhdi. Mengenal Ilmu Hadis. _______________________________________
Solahudin, M. Agus dan Agus Suyadi. 2011. Ulumul Hadis. Bandung : Pustaka Setia.





[1] M. Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hlm. 171.
[2] Zuhdi Rifa’I. Mengenal Ilmu Hadits. Hlm. 57.
[3] Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib. Ushul Al-Hadits. Hlm. 353.
[4] Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits. Hlm. 50.
[5] Ibid. Hlm. 50.
[6] Ibid. Hlm. 50-51.
[7] Ibid. Hlm. 51.
[8] M. Agus Solahudin dan Agus Suyadi. Ulumul Hadis. Hlm. 172.
[9] Fatchur Rahman. Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Hlm.174.
[10] Zuhdi Rifa’I. Mengenal Ilmu Hadis. Hlm. 58-59.
[11] Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits. Hlm. 197.

Aliran Hinayana - Mahayana

ALIRAN HINAYANA DAN MAHAYANA

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia



Oleh :
Adiba Zahrotul Wildah
NIM. 11140321000025





JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014


A.    Pendahuluan
Semenjak Sang Buddha terdapat beberapa usaha untuk melestarikan ajaran Buddha yang diprakarsai oleh Maha Kassapa terbentuklah Sanghayana I yang berusaha melestarikan ajaran Buddha dengan mengulang kembali ajaran-ajaran Buddha dengan Bhikkhu Ananda dan Bhikkhu Upali yang mengulang Dhamma dan Vinaya.
Pada Sanghayana II terdapat permasalahan dimana bhikkhu-bhikkhu dari suku Vajji mengajukan sepuluh point peraturan yang berbeda sekali dengan yang telah ada. Menurut Cullavaga hal ini terus berlanjut menjadi konflik yang akhirnya menimbulkan munculnya gerakan baru yaitu Mahayana, sedangkan yang konservatif disebut Hinayana. Tetapi menurut Mahavagga setelah terjadi pendekatan itu masalah selesai dan masing-masing pihak menerimanya.
Kemudian muncul aliran besar yaitu Hinayana dan Mahayana. Kedua aliran itu telah berkembang masing- masing dengan segala atributnya masing-masing. Kedua aliran ini mempunyai persamaan karena berasal atau bersumber pada hal yang sama yaitu Buddha. Keduanya juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar karena prinsip-prinsip diantara keduanya berbeda.[1]

B.     Aliran Hinayana
Hinayana terdiri dari kata hina (kecil) dan yana (kendaraan) sering disebut sebagai “kendaraan kecil” karena bertujuan menjadi arahat maupun paccekabuddha yang dianggap lebih rendah. Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah yang diberikan oleh kaum Mahayana. Pengikut aliran Hinayana tersebar mulai dari Srilanka, Burma, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos.[2]
Didalam kesusastraan berbahasa Pali, Hinayana berarti “kendaraan kecil”. Agama Hinayana berdasarkan kesusastraan Pali, ajaran asli Buddha, dan dijaga elemen-elemen rasionalistik dan monastik. Hinayana disebut Buddhisme Selatan karena berkembang di Ceylon (Sri Lanka sekarang) dan Burma.[3]
Hinayana dimaksudkan bagi sravaka saja, yaitu orang yang mempunyai kecerdasan rata-rata yang mampu mencapai kesempurnaan melalui mendengar dan mempraktekkan dharma (agama) yang pernah diterapkan oleh orang yang mempunyai kecerdasan luar biasa seperti Buddha.[4]
Kata Hinayana berasal dari dua kata yaitu hina dan yana. Kata yana berarti kendaraan, tidak ada yang berselisih paham mengenai kata ini. Sedangkan beberapa orang mengatakan kata hina adalah lawan dari kata maha. Dilihat dari bahasa Sanksekerta maupun bahasa Pali, lawan kata dari kata maha yang berarti besar bukanlah hina tetapi kata cuula yang berarti kecil. Lalu apakah arti kata hina? Kata hina sendiri berarti rendah, buruk, amoral. Hal ini dapat dibuktikan dengan kata hina dalam kosakata Indonesia yang sedikit banyak dipengaruhi oleh bahasa Sanksekerta.[5]
Hinayana adalah ajaran-ajaran asli dari Buddha Gautama. Kitab suci aliran Hinayana dikenal sebagai Pali Canon. Kitab suci ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian yang disebut Tipitaka (Tiga Bakul) :
1.      Vinaya Pitaka, berbiaca mengenai Sangha
2.      Sutta Pitaka. Terdiri dari bermacam-macam ceramah yang diberikan oleh Buddha
3.      Abhimdhamma Pitaka, berisi analisis ajaran Buddha.
Didalam aliran Hinayana tidak ada upacara-upacara keagamaan yang rumit-rumit dan mereka yang menganut aliran ini masih mempertahankan kesederhanaannya seperti dahulu diwaktu Sang Guru sendiri masih hidup pada 25 abad yang silam. Upacara-upacarta keagamaan kurang dianggap penting dan bahkan upacara-upacara yang berlebih-lebihan hanya menjadikan ikatan-ikatan yang dapat menghambat kemajuan-kemajuan batin.[6]
Prinsip-prinsip pandangan dari ajaran Hinayana adalah mempertahankan kemurnian ajaran Buddha dan menjaga ajaran Buddha agar tidak terpengaruh oleh kebudayaan lain, oleh karenanya dipandang orthodox. Pengikut-pengikutnya juga tidak begitu meluas sebagaimana aliran Mahayana. Kata Hinayana sendiri telah menunjukkan isi dan cita-cita yang terkandung didalamnya yaitu berarti kendaraan kecil. Aliran ini tidak dapat menampung banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan Nirwana karena dalam prinsip pandangannya menyatakan bahwa setiap orang bergantung pada usahanya sendiri dalam mencapai kebahagiaan abadi dengan tanpa adanya penolong dari dewa ataupun manusia Buddha. Aliran ini disebut juga Theravada yang lebih jelas menggambarkan pendirian aliran tersebut, karena Theravada berarti jalan orang-orang tua.[7]
Dalam pokok ajarannya, Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar yang terdapat di dalam kitab-kitab kanonik. Jika ajaran itu diikhtisarkan secara umum, dapat dirumuskan demikian :
1.      Segala sesuatu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja. Apa yang berbeda untuk sesaat saja itu disebut dharma. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang tetap berada. Tidak ada aku yang merasa, sebab yang ada adalah perasaan, demikian seterusnya,
2.      Dharma-dharma itu adalah kenyataan atau realitas yang kecil dan pendek, yang berkelompok sebagai sebab dan akibat. Karena pengaliran dharma yang terus-menerus maka timbullah kesadaran aku yang palsu atau ada perorangan yang palsu,
3.      Tujuan hidup adalah Nirwana, tempat kesadaran ditiadakan. Sebab segala kesadaran adalah belenggu karena kesadaran tidak lain adalah kesadaran terhadap sesuatu. Apakah yang tinggal berada di dalam Nirwana itu, sebenarnya tidak diuraikan dengan jelas,
4.      Cita-cita yang tertinggi ialah menjadi arhat, yaitu orang yang sudah berhenti keinginannya, ketidaktahuannya, dan sebagainya, dan oleh karenanya tidak ditaklukkan lagi pada kelahiran kembali,[8]
5.      Manusia dipandang sebagai seorang individu dalam usahanya,
6.      Sebagai kunci keutamaan manusia ialan kebijaksanaan,
7.      Buddha dipandang sebagai orang suci,
8.      Membatasi pengucapan doa pada meditasi,
9.      Meninggalkan atau menolak hal-hal yang bersifat metafisis,
10.  Meninggalkan atau menolak melakukan ritus dan rituals (upacara-upacara agama),
11.  Tidak mengenal dewa-dewa Lokapala (dewa angin) atau Trimurti dan tidak mengenal beryoga atau tantra (mantra-mantra).[9]

C.    Aliran Mahayana
Mahayana terdiri dari dua kata yakni maha (besar) dan yana (kendaraan), jadi secara etimologis berarti kendaraan besar. Ide maha merujuk pada tujuan religius seorang buddhis yang menjadi Bodhisatva Samasamboddhi (Buddha sempurna). Aliran Mahayana yaitu aliran Hinayana yang diperbaharui dengan diberi pelajaran-pelajaran ekstra yang dipelopori oleh Buddhaghosa atau Asvaghosa.
Didalam kesusastraan sanksekerta, Mahayana berarti “kendaraan besar”. Agama Mahayana tidak mempunyai sumber asli dan mengembangkan sebuah agama mistik dan pemujaan. Mahayana disebut Buddhisme Utara karena berkembang di Tibet, Cina, dan Jepang.[10]
Aliran Buddhisme ini disebut dengan Mahayana karena dapat menampung sebanyak-banyaknya orang yang ingin masuk Nirwana, hingga diumpamakan sebagai sebuah kereta besar yang memuat penumpang banyak (arti kata Mahayana adalah kereta atau kendaraan besar).
Berbeda dengan Hinayana yang mempertahankan kemurnian ajaran Buddha yang tidak mengalami perpecahan dalam aliran-aliran, sebaliknya dalam Mahayana terjadi perpecahan dalam banyak hal aliran. Makin banyak kebebasan berfikir dalam agama diberikan, makin besar kecenderungan untuk berpecah belah dalam bentuk-bentuk aliran (sekte-sekte).[11]
Cita-cita tertinggi di dalam Mahayana ialah untuk menjadi Bodhisattwa (orang yang sudah melepaskan dirinya dan dapat menemukan sarana untuk menjadikan benih pencerahan tumbuh dan menjadi masak pada diri orang lain). Cita-cita ini berlainan sekali dengan cita-cita Hinayana, yaitu untuk menjadi Arhat. Sebab seorang arhat hanya memikirkan kelepasan diri sendiri. Cita-cita Mahayana ini juga berlainan sekali dengan cita-cita untuk menjadi Pratyeka Buddha, seperti yang diajarkan oleh Hinayana, yaitu bahwa karena usahanya sendiri orang dapat mencapai pencerahan bagi dirinya sendiri saja, tidak untuk diberitakan kepada orang lain. Sekalipun karena kebijakannya seorang Bodhisattwa sudah dapat mencapai Nirwana, namun ia memilih jalan yang lebih panjang. Ia belum mau masuk Nirwana, dikarenakan belas kasihnya pada dunia, agar dunia dalam arti seluas-luasnya (termasuk para Dewa dan manusia) bisa mendapatkan Nirwana yang sesempurna mungkin.[12]
Pokok-pokok ajaran Mahayana secara ringkas mengajarkan:
1.      Seseorang dalam mencapai Nirwana tidak egoistis mementingkan dirinya sendiri akan tetapi dapat saling membantu,
2.      Kunci keutamaan ialah kasih sayang yang disebut karuna,
3.      Pencapaian tertinggi adalah Bodhisattwa (orang yang telah mencapai ilham sehingga terjamin untuk masuk Nirwana),
4.      Buddha dipandang sebagai juru selamat dunia,
5.      Ajarannya bersifat liberal.[13]

D.    Persamaan Hinayana dan Mahayana
Aliran Hinayana dan Mahayana memiliki beberapa persamaan yang akan dipaparkan sebagai berikut :
1.      Pencerahan merupakan tujuan Budhisme. Ia bertujuan untuk menyingkirkan kebodohan dan pencapaian pencerahan.
2.      Dunia tanpa permulaan atau akhir. Semua fenomena mengalami hukum sebab-akibat. Tidak ada penyebab pertama.
3.      Semuanya bersifat sementara, tidak permanen. Tidak ada ke-Ada-an (Being), yang ada hanyalah arus tidak permanen kesadaran.
4.      Tidak ada ego permanen. Yang ada hanyalah arus tidak permanen kesadaran.
5.      Hukum karma mengatur fenomena moral.
6.      Transmigrasi terjadi karena karma. Tindakan didalam kehidupan impiris menghasilkan karma. Transmigrasi mengantarkan kepada penderitaan.
7.      Kebodohan (avidya) adalah penyebab penderitaan.
8.      Delapan jalan utama dan kesempurnaan (paramita) menghancurkan kebodohan.[14]

E.     Perbedaan Hinayana dan Mahayana
Dalam perjalanan waktu Buddhisme pecah menjadi Hinayana dan Mahayana yang mempunyai banyak perbedaan. Singha menguraikan sebagai berikut:
1.        Hinayana bersifat konservatif, sementara Mahayana katholik dan progresif.
2.        Hinayana memandang Buddha sebagai seorang manusia historis, sementara Mahayana memandang Buddha sebagai yang transendental, eternal, dan absolut yang menyelamatkan semua makhluk hidup melalui tiga tubuhnya (trikaya), yaitu Dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya.
3.        Hinayana percaya dengan adanya satu Buddha, Buddha historis; sementara Mahayana percaya dalam Boddhisatva yang jumlahnya tak terbatas, yang bersumpah untuk mencapai kesempurnaan dan membebaskan semua makhluk hidup dari penderitaan.
4.        Hinayana bertujuan pada pencapaian ke-Arhat-an atau pembebasan individual, sementara Mahayana bertujuan untuk mencapai pembebasan universal.
5.        Hinayana percaya bahwa satu orang mencapai ke-Buddha-an, sementara Mahayana percaya bahwa semua bisa mencapainya karena mereka hakikat Buddha dan keinginan untuk pencerahan (Bodhi).
6.        Hinayana menolak nirvana ke samsara, sementara Mahayana percaya bahwa samsara bukan merupakan negasai nirvana yang harus dicapai dan melalui samsara. Hinayana menekankan kehidupan bhiksu tentang penolakan dunia, sementara Mahayana menekankan kehidupan berumah tangga.
7.        Hinayana memandang penderitaan sebagai sesuatu yang harus dihindari, sementara Mahayana memandangnya sebagai sebuah jalan menuju pembebasan. Didalam Mahayana, Boddhisatva secara sengaja dan senang mengalami penderitaan untuk pembebasan semua makhluk hidup.
8.        Hinayana memandang nirvana sebagai penghilangan transmigrasi, sementara Mahayana memandangnya sebagai sebuah pengalaman transendental Sunyata. Hinayana memandangnya menjadi keadaan negatif, sementara Mahayana memandangnya menjadi sebuah keadaan positif.
9.        Hinayana menekankan abstein dari kejahatan, sementara Mahayana menekankan penggalian kesempurnaan (paramita) dan melakukan kebaikan kepada orang lain. Hinayana bersifat negatif dan berpusat pada diri di dalam pandangannya, sementara Mahayana bersifat positif dan altruistik di dalam pandangannya.
10.    Hinayana adalah realistik, sementara Mahayana idealistik. Hinayana percaya dengan realitas dunia eksternal dan pikiran-pikiran individual atau aliran kesadaran, sementara Mahayana percaya dengan Satu Pikiran, Alayavijnana yang membangun dunia imajiner.
11.    Hinayana percaya di dalam ketidakpermanenan semua fenomena, fisik, dan mental; sementara Mahayana percaya di dalam Sunyata yang numena di belakang fenomena yang tidak permanen. Hukum perubahan adalah tertinggi di dunia fenomenal atau relativitas, tetapi Sunyata tertinggi di dunia Nirvana yang berada di atas relativitas.[15]

F.     Penutup
Buddhisme sudah mengalami banyak perkembangan selama lebih dari dua puluh lima abad. Bukti dari perkembangannya adalah lahirnya dua aliran besar yaitu Hinayana dan Mahayana. Semenjak kedua aliran itu muncul, banyak ajaran-ajaran baru yang semakin memperkaya ajaran Buddhisme. Tidak dapat dipungkiri, munculnya dua aliran besar itu juga menimbulkan banyak perbedaan antar keduanya yang terkadang saling bertentangan, namun banyak pula persamaan antar keduanya. Perbedaan antar keduanya menunjukkan ciri khas masing-masing sebagai aliran Buddhisme, sedangkan persamaannya menunjukkan walau bagaimanapun keduanya tetaplah ajaran Buddhisme. Keduanya menerima prinsip-prinsip ajaran Buddhisme seperti empat kebenaran mulia, jalan mulia berunsur delapan, anatma, karma.

G.    Daftar Pustaka
Arifin, M. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar. Jakarta: PT Golden Trayon Press. 1986.
Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 2003.
Indonesia, Majelis Buddhayana. Kebahagiaan Dalam Dhamma. Depok: Bromo FC. 1980.
Rasyid, Faur, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
Suamba, I. B. Putu. Siwa-Buddha Di Indonesia. Bali: PT Mabhakti. 2007.
Suwarto, T. Buddha Dharma Mahayana. Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia. 1995.




[1] T. Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, (Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995), h.833.
[2] Faur Rasyid, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[3] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.222.
[4] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha  Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.226.
[5] Faur Rasyid, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[6] Majelis Buddhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Depok: Bromo FC, 1980), h.333.
[7] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.108.
[8] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), h.91.
[9] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.109.
[10] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.222.
[11] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.110.
[12] Faur Rasyid, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[13] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.111.
[14] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.225.
[15] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.224.