ALIRAN
HINAYANA DAN MAHAYANA
Makalah
Diajukan untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Oleh :
Adiba
Zahrotul Wildah
NIM.
11140321000025
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
A.
Pendahuluan
Semenjak
Sang Buddha terdapat beberapa usaha untuk melestarikan ajaran Buddha yang
diprakarsai oleh Maha Kassapa terbentuklah Sanghayana I yang berusaha
melestarikan ajaran Buddha dengan mengulang kembali ajaran-ajaran Buddha dengan
Bhikkhu Ananda dan Bhikkhu Upali yang mengulang Dhamma dan Vinaya.
Pada
Sanghayana II terdapat permasalahan dimana bhikkhu-bhikkhu dari suku Vajji
mengajukan sepuluh point peraturan yang berbeda sekali dengan yang telah ada.
Menurut Cullavaga hal ini terus berlanjut menjadi konflik yang akhirnya
menimbulkan munculnya gerakan baru yaitu Mahayana, sedangkan yang konservatif
disebut Hinayana. Tetapi menurut Mahavagga setelah terjadi pendekatan itu
masalah selesai dan masing-masing pihak menerimanya.
Kemudian
muncul aliran besar yaitu Hinayana dan Mahayana. Kedua aliran itu telah
berkembang masing- masing dengan segala atributnya masing-masing. Kedua aliran
ini mempunyai persamaan karena berasal atau bersumber pada hal yang sama yaitu
Buddha. Keduanya juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar karena
prinsip-prinsip diantara keduanya berbeda.[1]
B.
Aliran
Hinayana
Hinayana
terdiri dari kata hina (kecil) dan yana (kendaraan) sering disebut sebagai
“kendaraan kecil” karena bertujuan menjadi arahat maupun paccekabuddha yang
dianggap lebih rendah. Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah
yang diberikan oleh kaum Mahayana. Pengikut aliran Hinayana tersebar mulai dari
Srilanka, Burma, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos.[2]
Didalam
kesusastraan berbahasa Pali, Hinayana
berarti “kendaraan kecil”. Agama Hinayana berdasarkan kesusastraan Pali, ajaran
asli Buddha, dan dijaga elemen-elemen rasionalistik dan monastik. Hinayana
disebut Buddhisme Selatan karena berkembang di Ceylon (Sri Lanka sekarang) dan
Burma.[3]
Hinayana
dimaksudkan bagi sravaka saja, yaitu orang yang mempunyai kecerdasan rata-rata
yang mampu mencapai kesempurnaan melalui mendengar dan mempraktekkan dharma
(agama) yang pernah diterapkan oleh orang yang mempunyai kecerdasan luar biasa
seperti Buddha.[4]
Kata
Hinayana berasal dari dua kata yaitu hina dan yana. Kata yana berarti
kendaraan, tidak ada yang berselisih paham mengenai kata ini. Sedangkan beberapa
orang mengatakan kata hina adalah lawan dari kata maha. Dilihat dari bahasa
Sanksekerta maupun bahasa Pali, lawan kata dari kata maha yang berarti besar
bukanlah hina tetapi kata cuula yang berarti kecil. Lalu apakah arti kata hina?
Kata hina sendiri berarti rendah, buruk, amoral. Hal ini dapat dibuktikan
dengan kata hina dalam kosakata Indonesia yang sedikit banyak dipengaruhi oleh
bahasa Sanksekerta.[5]
Hinayana
adalah ajaran-ajaran asli dari Buddha Gautama. Kitab suci aliran Hinayana
dikenal sebagai Pali Canon. Kitab suci ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian
yang disebut Tipitaka (Tiga Bakul) :
1. Vinaya
Pitaka, berbiaca mengenai Sangha
2. Sutta
Pitaka. Terdiri dari bermacam-macam ceramah yang diberikan oleh Buddha
3. Abhimdhamma
Pitaka, berisi analisis ajaran Buddha.
Didalam
aliran Hinayana tidak ada upacara-upacara keagamaan yang rumit-rumit dan mereka
yang menganut aliran ini masih mempertahankan kesederhanaannya seperti dahulu
diwaktu Sang Guru sendiri masih hidup pada 25 abad yang silam. Upacara-upacarta
keagamaan kurang dianggap penting dan bahkan upacara-upacara yang
berlebih-lebihan hanya menjadikan ikatan-ikatan yang dapat menghambat
kemajuan-kemajuan batin.[6]
Prinsip-prinsip
pandangan dari ajaran Hinayana adalah mempertahankan kemurnian ajaran Buddha
dan menjaga ajaran Buddha agar tidak terpengaruh oleh kebudayaan lain, oleh
karenanya dipandang orthodox. Pengikut-pengikutnya juga tidak begitu meluas
sebagaimana aliran Mahayana. Kata Hinayana sendiri telah menunjukkan isi dan
cita-cita yang terkandung didalamnya yaitu berarti kendaraan kecil. Aliran ini
tidak dapat menampung banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan Nirwana karena
dalam prinsip pandangannya menyatakan bahwa setiap orang bergantung pada
usahanya sendiri dalam mencapai kebahagiaan abadi dengan tanpa adanya penolong
dari dewa ataupun manusia Buddha. Aliran ini disebut juga Theravada yang lebih
jelas menggambarkan pendirian aliran tersebut, karena Theravada berarti jalan
orang-orang tua.[7]
Dalam
pokok ajarannya, Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari
dasar-dasar yang terdapat di dalam kitab-kitab kanonik. Jika ajaran itu
diikhtisarkan secara umum, dapat dirumuskan demikian :
1.
Segala sesuatu bersifat
fana serta hanya berada untuk sesaat saja. Apa yang berbeda untuk sesaat saja
itu disebut dharma. Oleh karena itu
tidak ada sesuatu yang tetap berada. Tidak ada aku yang merasa, sebab yang ada
adalah perasaan, demikian seterusnya,
2.
Dharma-dharma itu
adalah kenyataan atau realitas yang kecil dan pendek, yang berkelompok sebagai sebab
dan akibat. Karena pengaliran dharma yang terus-menerus maka timbullah
kesadaran aku yang palsu atau ada perorangan yang palsu,
3.
Tujuan hidup adalah
Nirwana, tempat kesadaran ditiadakan. Sebab segala kesadaran adalah belenggu
karena kesadaran tidak lain adalah kesadaran terhadap sesuatu. Apakah yang
tinggal berada di dalam Nirwana itu, sebenarnya tidak diuraikan dengan jelas,
4.
Cita-cita yang
tertinggi ialah menjadi arhat, yaitu
orang yang sudah berhenti keinginannya, ketidaktahuannya, dan sebagainya, dan
oleh karenanya tidak ditaklukkan lagi pada kelahiran kembali,[8]
5.
Manusia dipandang
sebagai seorang individu dalam usahanya,
6.
Sebagai kunci keutamaan
manusia ialan kebijaksanaan,
7.
Buddha dipandang
sebagai orang suci,
8.
Membatasi pengucapan
doa pada meditasi,
9.
Meninggalkan atau menolak
hal-hal yang bersifat metafisis,
10.
Meninggalkan atau
menolak melakukan ritus dan rituals (upacara-upacara agama),
11.
Tidak mengenal
dewa-dewa Lokapala (dewa angin) atau Trimurti dan tidak mengenal beryoga atau tantra
(mantra-mantra).[9]
C.
Aliran
Mahayana
Mahayana
terdiri dari dua kata yakni maha
(besar) dan yana (kendaraan), jadi
secara etimologis berarti kendaraan besar. Ide maha merujuk pada tujuan
religius seorang buddhis yang menjadi Bodhisatva Samasamboddhi (Buddha
sempurna). Aliran Mahayana yaitu aliran Hinayana yang diperbaharui dengan
diberi pelajaran-pelajaran ekstra yang dipelopori oleh Buddhaghosa atau
Asvaghosa.
Didalam
kesusastraan sanksekerta, Mahayana
berarti “kendaraan besar”. Agama Mahayana tidak mempunyai sumber asli dan
mengembangkan sebuah agama mistik dan pemujaan. Mahayana disebut Buddhisme
Utara karena berkembang di Tibet, Cina, dan Jepang.[10]
Aliran
Buddhisme ini disebut dengan Mahayana karena dapat menampung sebanyak-banyaknya
orang yang ingin masuk Nirwana, hingga diumpamakan sebagai sebuah kereta besar
yang memuat penumpang banyak (arti kata Mahayana adalah kereta atau kendaraan
besar).
Berbeda
dengan Hinayana yang mempertahankan kemurnian ajaran Buddha yang tidak
mengalami perpecahan dalam aliran-aliran, sebaliknya dalam Mahayana terjadi
perpecahan dalam banyak hal aliran. Makin banyak kebebasan berfikir dalam agama
diberikan, makin besar kecenderungan untuk berpecah belah dalam bentuk-bentuk
aliran (sekte-sekte).[11]
Cita-cita tertinggi di dalam Mahayana
ialah untuk menjadi Bodhisattwa (orang
yang sudah melepaskan dirinya dan dapat menemukan sarana untuk menjadikan benih
pencerahan tumbuh dan menjadi masak pada diri orang lain). Cita-cita ini berlainan sekali dengan cita-cita Hinayana, yaitu
untuk menjadi Arhat. Sebab seorang
arhat hanya memikirkan kelepasan diri sendiri. Cita-cita Mahayana ini juga
berlainan sekali dengan cita-cita untuk menjadi Pratyeka Buddha, seperti yang diajarkan oleh Hinayana, yaitu bahwa
karena usahanya sendiri orang dapat mencapai pencerahan bagi dirinya sendiri
saja, tidak untuk diberitakan kepada orang lain. Sekalipun karena kebijakannya
seorang Bodhisattwa sudah dapat mencapai Nirwana, namun ia memilih jalan yang
lebih panjang. Ia belum mau masuk Nirwana, dikarenakan belas kasihnya pada
dunia, agar dunia dalam arti seluas-luasnya (termasuk para Dewa dan manusia)
bisa mendapatkan Nirwana yang sesempurna mungkin.[12]
Pokok-pokok ajaran Mahayana secara
ringkas mengajarkan:
1. Seseorang
dalam mencapai Nirwana tidak egoistis mementingkan dirinya sendiri akan tetapi
dapat saling membantu,
2. Kunci
keutamaan ialah kasih sayang yang disebut karuna,
3. Pencapaian
tertinggi adalah Bodhisattwa (orang yang telah mencapai ilham sehingga terjamin
untuk masuk Nirwana),
4. Buddha
dipandang sebagai juru selamat dunia,
5. Ajarannya
bersifat liberal.[13]
D.
Persamaan
Hinayana dan Mahayana
Aliran
Hinayana dan Mahayana memiliki beberapa persamaan yang akan dipaparkan sebagai
berikut :
1. Pencerahan
merupakan tujuan Budhisme. Ia bertujuan untuk menyingkirkan kebodohan dan
pencapaian pencerahan.
2. Dunia
tanpa permulaan atau akhir. Semua fenomena mengalami hukum sebab-akibat. Tidak
ada penyebab pertama.
3. Semuanya
bersifat sementara, tidak permanen. Tidak ada ke-Ada-an (Being), yang ada
hanyalah arus tidak permanen kesadaran.
4. Tidak
ada ego permanen. Yang ada hanyalah arus tidak permanen kesadaran.
5. Hukum
karma mengatur fenomena moral.
6. Transmigrasi
terjadi karena karma. Tindakan didalam kehidupan impiris menghasilkan karma.
Transmigrasi mengantarkan kepada penderitaan.
7. Kebodohan
(avidya) adalah penyebab penderitaan.
8. Delapan
jalan utama dan kesempurnaan (paramita) menghancurkan kebodohan.[14]
E.
Perbedaan
Hinayana dan Mahayana
Dalam
perjalanan waktu Buddhisme pecah menjadi Hinayana dan Mahayana yang mempunyai
banyak perbedaan. Singha menguraikan sebagai berikut:
1.
Hinayana bersifat
konservatif, sementara Mahayana katholik dan progresif.
2.
Hinayana memandang
Buddha sebagai seorang manusia historis, sementara Mahayana memandang Buddha
sebagai yang transendental, eternal, dan absolut yang menyelamatkan semua
makhluk hidup melalui tiga tubuhnya (trikaya), yaitu Dharmakaya, Sambhogakaya,
dan Nirmanakaya.
3.
Hinayana percaya dengan
adanya satu Buddha, Buddha historis; sementara Mahayana percaya dalam
Boddhisatva yang jumlahnya tak terbatas, yang bersumpah untuk mencapai
kesempurnaan dan membebaskan semua makhluk hidup dari penderitaan.
4.
Hinayana bertujuan pada
pencapaian ke-Arhat-an atau
pembebasan individual, sementara Mahayana bertujuan untuk mencapai pembebasan
universal.
5.
Hinayana percaya bahwa
satu orang mencapai ke-Buddha-an,
sementara Mahayana percaya bahwa semua bisa mencapainya karena mereka hakikat
Buddha dan keinginan untuk pencerahan (Bodhi).
6.
Hinayana menolak nirvana ke samsara, sementara Mahayana percaya bahwa samsara bukan merupakan negasai nirvana
yang harus dicapai dan melalui samsara.
Hinayana menekankan kehidupan bhiksu
tentang penolakan dunia, sementara Mahayana menekankan kehidupan berumah
tangga.
7.
Hinayana memandang
penderitaan sebagai sesuatu yang harus dihindari, sementara Mahayana
memandangnya sebagai sebuah jalan menuju pembebasan. Didalam Mahayana,
Boddhisatva secara sengaja dan senang mengalami penderitaan untuk pembebasan
semua makhluk hidup.
8.
Hinayana memandang nirvana sebagai penghilangan
transmigrasi, sementara Mahayana memandangnya sebagai sebuah pengalaman
transendental Sunyata. Hinayana memandangnya menjadi keadaan negatif, sementara
Mahayana memandangnya menjadi sebuah keadaan positif.
9.
Hinayana menekankan
abstein dari kejahatan, sementara Mahayana menekankan penggalian kesempurnaan
(paramita) dan melakukan kebaikan kepada orang lain. Hinayana bersifat negatif
dan berpusat pada diri di dalam pandangannya, sementara Mahayana bersifat positif
dan altruistik di dalam pandangannya.
10.
Hinayana adalah
realistik, sementara Mahayana idealistik. Hinayana percaya dengan realitas
dunia eksternal dan pikiran-pikiran individual atau aliran kesadaran, sementara
Mahayana percaya dengan Satu Pikiran, Alayavijnana
yang membangun dunia imajiner.
11.
Hinayana percaya di
dalam ketidakpermanenan semua fenomena, fisik, dan mental; sementara Mahayana
percaya di dalam Sunyata yang numena di
belakang fenomena yang tidak permanen. Hukum perubahan adalah tertinggi di
dunia fenomenal atau relativitas, tetapi Sunyata
tertinggi di dunia Nirvana yang
berada di atas relativitas.[15]
F.
Penutup
Buddhisme
sudah mengalami banyak perkembangan selama lebih dari dua puluh lima abad.
Bukti dari perkembangannya adalah lahirnya dua aliran besar yaitu Hinayana dan
Mahayana. Semenjak kedua aliran itu muncul, banyak ajaran-ajaran baru yang
semakin memperkaya ajaran Buddhisme. Tidak dapat dipungkiri, munculnya dua
aliran besar itu juga menimbulkan banyak perbedaan antar keduanya yang
terkadang saling bertentangan, namun banyak pula persamaan antar keduanya.
Perbedaan antar keduanya menunjukkan ciri khas masing-masing sebagai aliran
Buddhisme, sedangkan persamaannya menunjukkan walau bagaimanapun keduanya
tetaplah ajaran Buddhisme. Keduanya menerima prinsip-prinsip ajaran Buddhisme
seperti empat kebenaran mulia, jalan mulia berunsur delapan, anatma, karma.
G.
Daftar
Pustaka
Arifin,
M. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama
Besar. Jakarta: PT Golden Trayon Press. 1986.
Hadiwijono,
Harun. Agama Hindu dan Buddha.
Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 2003.
Indonesia,
Majelis Buddhayana. Kebahagiaan Dalam
Dhamma. Depok: Bromo FC. 1980.
Rasyid,
Faur, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014
dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
Suamba,
I. B. Putu. Siwa-Buddha Di Indonesia.
Bali: PT Mabhakti. 2007.
Suwarto,
T. Buddha Dharma Mahayana. Jakarta:
Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia. 1995.
[1] T. Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, (Jakarta:
Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995), h.833.
[2] Faur Rasyid, “Aliran
Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[3] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT
Mabhakti, 2007), h.222.
[4] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007),
h.226.
[5] Faur Rasyid, “Aliran
Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[6] Majelis Buddhayana
Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma,
(Depok: Bromo FC, 1980), h.333.
[7] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.108.
[8] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: PT BPK
Gunung Mulia, 2003), h.91.
[9] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.109.
[10] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT
Mabhakti, 2007), h.222.
[11] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.110.
[12] Faur Rasyid, “Aliran
Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[13] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar,
(Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.111.
[14] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT
Mabhakti, 2007), h.225.
[15] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT
Mabhakti, 2007), h.224.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar