Sabtu, 04 Juni 2016

Aliran Hinayana - Mahayana

ALIRAN HINAYANA DAN MAHAYANA

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia



Oleh :
Adiba Zahrotul Wildah
NIM. 11140321000025





JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014


A.    Pendahuluan
Semenjak Sang Buddha terdapat beberapa usaha untuk melestarikan ajaran Buddha yang diprakarsai oleh Maha Kassapa terbentuklah Sanghayana I yang berusaha melestarikan ajaran Buddha dengan mengulang kembali ajaran-ajaran Buddha dengan Bhikkhu Ananda dan Bhikkhu Upali yang mengulang Dhamma dan Vinaya.
Pada Sanghayana II terdapat permasalahan dimana bhikkhu-bhikkhu dari suku Vajji mengajukan sepuluh point peraturan yang berbeda sekali dengan yang telah ada. Menurut Cullavaga hal ini terus berlanjut menjadi konflik yang akhirnya menimbulkan munculnya gerakan baru yaitu Mahayana, sedangkan yang konservatif disebut Hinayana. Tetapi menurut Mahavagga setelah terjadi pendekatan itu masalah selesai dan masing-masing pihak menerimanya.
Kemudian muncul aliran besar yaitu Hinayana dan Mahayana. Kedua aliran itu telah berkembang masing- masing dengan segala atributnya masing-masing. Kedua aliran ini mempunyai persamaan karena berasal atau bersumber pada hal yang sama yaitu Buddha. Keduanya juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar karena prinsip-prinsip diantara keduanya berbeda.[1]

B.     Aliran Hinayana
Hinayana terdiri dari kata hina (kecil) dan yana (kendaraan) sering disebut sebagai “kendaraan kecil” karena bertujuan menjadi arahat maupun paccekabuddha yang dianggap lebih rendah. Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah yang diberikan oleh kaum Mahayana. Pengikut aliran Hinayana tersebar mulai dari Srilanka, Burma, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos.[2]
Didalam kesusastraan berbahasa Pali, Hinayana berarti “kendaraan kecil”. Agama Hinayana berdasarkan kesusastraan Pali, ajaran asli Buddha, dan dijaga elemen-elemen rasionalistik dan monastik. Hinayana disebut Buddhisme Selatan karena berkembang di Ceylon (Sri Lanka sekarang) dan Burma.[3]
Hinayana dimaksudkan bagi sravaka saja, yaitu orang yang mempunyai kecerdasan rata-rata yang mampu mencapai kesempurnaan melalui mendengar dan mempraktekkan dharma (agama) yang pernah diterapkan oleh orang yang mempunyai kecerdasan luar biasa seperti Buddha.[4]
Kata Hinayana berasal dari dua kata yaitu hina dan yana. Kata yana berarti kendaraan, tidak ada yang berselisih paham mengenai kata ini. Sedangkan beberapa orang mengatakan kata hina adalah lawan dari kata maha. Dilihat dari bahasa Sanksekerta maupun bahasa Pali, lawan kata dari kata maha yang berarti besar bukanlah hina tetapi kata cuula yang berarti kecil. Lalu apakah arti kata hina? Kata hina sendiri berarti rendah, buruk, amoral. Hal ini dapat dibuktikan dengan kata hina dalam kosakata Indonesia yang sedikit banyak dipengaruhi oleh bahasa Sanksekerta.[5]
Hinayana adalah ajaran-ajaran asli dari Buddha Gautama. Kitab suci aliran Hinayana dikenal sebagai Pali Canon. Kitab suci ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian yang disebut Tipitaka (Tiga Bakul) :
1.      Vinaya Pitaka, berbiaca mengenai Sangha
2.      Sutta Pitaka. Terdiri dari bermacam-macam ceramah yang diberikan oleh Buddha
3.      Abhimdhamma Pitaka, berisi analisis ajaran Buddha.
Didalam aliran Hinayana tidak ada upacara-upacara keagamaan yang rumit-rumit dan mereka yang menganut aliran ini masih mempertahankan kesederhanaannya seperti dahulu diwaktu Sang Guru sendiri masih hidup pada 25 abad yang silam. Upacara-upacarta keagamaan kurang dianggap penting dan bahkan upacara-upacara yang berlebih-lebihan hanya menjadikan ikatan-ikatan yang dapat menghambat kemajuan-kemajuan batin.[6]
Prinsip-prinsip pandangan dari ajaran Hinayana adalah mempertahankan kemurnian ajaran Buddha dan menjaga ajaran Buddha agar tidak terpengaruh oleh kebudayaan lain, oleh karenanya dipandang orthodox. Pengikut-pengikutnya juga tidak begitu meluas sebagaimana aliran Mahayana. Kata Hinayana sendiri telah menunjukkan isi dan cita-cita yang terkandung didalamnya yaitu berarti kendaraan kecil. Aliran ini tidak dapat menampung banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan Nirwana karena dalam prinsip pandangannya menyatakan bahwa setiap orang bergantung pada usahanya sendiri dalam mencapai kebahagiaan abadi dengan tanpa adanya penolong dari dewa ataupun manusia Buddha. Aliran ini disebut juga Theravada yang lebih jelas menggambarkan pendirian aliran tersebut, karena Theravada berarti jalan orang-orang tua.[7]
Dalam pokok ajarannya, Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar yang terdapat di dalam kitab-kitab kanonik. Jika ajaran itu diikhtisarkan secara umum, dapat dirumuskan demikian :
1.      Segala sesuatu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja. Apa yang berbeda untuk sesaat saja itu disebut dharma. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang tetap berada. Tidak ada aku yang merasa, sebab yang ada adalah perasaan, demikian seterusnya,
2.      Dharma-dharma itu adalah kenyataan atau realitas yang kecil dan pendek, yang berkelompok sebagai sebab dan akibat. Karena pengaliran dharma yang terus-menerus maka timbullah kesadaran aku yang palsu atau ada perorangan yang palsu,
3.      Tujuan hidup adalah Nirwana, tempat kesadaran ditiadakan. Sebab segala kesadaran adalah belenggu karena kesadaran tidak lain adalah kesadaran terhadap sesuatu. Apakah yang tinggal berada di dalam Nirwana itu, sebenarnya tidak diuraikan dengan jelas,
4.      Cita-cita yang tertinggi ialah menjadi arhat, yaitu orang yang sudah berhenti keinginannya, ketidaktahuannya, dan sebagainya, dan oleh karenanya tidak ditaklukkan lagi pada kelahiran kembali,[8]
5.      Manusia dipandang sebagai seorang individu dalam usahanya,
6.      Sebagai kunci keutamaan manusia ialan kebijaksanaan,
7.      Buddha dipandang sebagai orang suci,
8.      Membatasi pengucapan doa pada meditasi,
9.      Meninggalkan atau menolak hal-hal yang bersifat metafisis,
10.  Meninggalkan atau menolak melakukan ritus dan rituals (upacara-upacara agama),
11.  Tidak mengenal dewa-dewa Lokapala (dewa angin) atau Trimurti dan tidak mengenal beryoga atau tantra (mantra-mantra).[9]

C.    Aliran Mahayana
Mahayana terdiri dari dua kata yakni maha (besar) dan yana (kendaraan), jadi secara etimologis berarti kendaraan besar. Ide maha merujuk pada tujuan religius seorang buddhis yang menjadi Bodhisatva Samasamboddhi (Buddha sempurna). Aliran Mahayana yaitu aliran Hinayana yang diperbaharui dengan diberi pelajaran-pelajaran ekstra yang dipelopori oleh Buddhaghosa atau Asvaghosa.
Didalam kesusastraan sanksekerta, Mahayana berarti “kendaraan besar”. Agama Mahayana tidak mempunyai sumber asli dan mengembangkan sebuah agama mistik dan pemujaan. Mahayana disebut Buddhisme Utara karena berkembang di Tibet, Cina, dan Jepang.[10]
Aliran Buddhisme ini disebut dengan Mahayana karena dapat menampung sebanyak-banyaknya orang yang ingin masuk Nirwana, hingga diumpamakan sebagai sebuah kereta besar yang memuat penumpang banyak (arti kata Mahayana adalah kereta atau kendaraan besar).
Berbeda dengan Hinayana yang mempertahankan kemurnian ajaran Buddha yang tidak mengalami perpecahan dalam aliran-aliran, sebaliknya dalam Mahayana terjadi perpecahan dalam banyak hal aliran. Makin banyak kebebasan berfikir dalam agama diberikan, makin besar kecenderungan untuk berpecah belah dalam bentuk-bentuk aliran (sekte-sekte).[11]
Cita-cita tertinggi di dalam Mahayana ialah untuk menjadi Bodhisattwa (orang yang sudah melepaskan dirinya dan dapat menemukan sarana untuk menjadikan benih pencerahan tumbuh dan menjadi masak pada diri orang lain). Cita-cita ini berlainan sekali dengan cita-cita Hinayana, yaitu untuk menjadi Arhat. Sebab seorang arhat hanya memikirkan kelepasan diri sendiri. Cita-cita Mahayana ini juga berlainan sekali dengan cita-cita untuk menjadi Pratyeka Buddha, seperti yang diajarkan oleh Hinayana, yaitu bahwa karena usahanya sendiri orang dapat mencapai pencerahan bagi dirinya sendiri saja, tidak untuk diberitakan kepada orang lain. Sekalipun karena kebijakannya seorang Bodhisattwa sudah dapat mencapai Nirwana, namun ia memilih jalan yang lebih panjang. Ia belum mau masuk Nirwana, dikarenakan belas kasihnya pada dunia, agar dunia dalam arti seluas-luasnya (termasuk para Dewa dan manusia) bisa mendapatkan Nirwana yang sesempurna mungkin.[12]
Pokok-pokok ajaran Mahayana secara ringkas mengajarkan:
1.      Seseorang dalam mencapai Nirwana tidak egoistis mementingkan dirinya sendiri akan tetapi dapat saling membantu,
2.      Kunci keutamaan ialah kasih sayang yang disebut karuna,
3.      Pencapaian tertinggi adalah Bodhisattwa (orang yang telah mencapai ilham sehingga terjamin untuk masuk Nirwana),
4.      Buddha dipandang sebagai juru selamat dunia,
5.      Ajarannya bersifat liberal.[13]

D.    Persamaan Hinayana dan Mahayana
Aliran Hinayana dan Mahayana memiliki beberapa persamaan yang akan dipaparkan sebagai berikut :
1.      Pencerahan merupakan tujuan Budhisme. Ia bertujuan untuk menyingkirkan kebodohan dan pencapaian pencerahan.
2.      Dunia tanpa permulaan atau akhir. Semua fenomena mengalami hukum sebab-akibat. Tidak ada penyebab pertama.
3.      Semuanya bersifat sementara, tidak permanen. Tidak ada ke-Ada-an (Being), yang ada hanyalah arus tidak permanen kesadaran.
4.      Tidak ada ego permanen. Yang ada hanyalah arus tidak permanen kesadaran.
5.      Hukum karma mengatur fenomena moral.
6.      Transmigrasi terjadi karena karma. Tindakan didalam kehidupan impiris menghasilkan karma. Transmigrasi mengantarkan kepada penderitaan.
7.      Kebodohan (avidya) adalah penyebab penderitaan.
8.      Delapan jalan utama dan kesempurnaan (paramita) menghancurkan kebodohan.[14]

E.     Perbedaan Hinayana dan Mahayana
Dalam perjalanan waktu Buddhisme pecah menjadi Hinayana dan Mahayana yang mempunyai banyak perbedaan. Singha menguraikan sebagai berikut:
1.        Hinayana bersifat konservatif, sementara Mahayana katholik dan progresif.
2.        Hinayana memandang Buddha sebagai seorang manusia historis, sementara Mahayana memandang Buddha sebagai yang transendental, eternal, dan absolut yang menyelamatkan semua makhluk hidup melalui tiga tubuhnya (trikaya), yaitu Dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya.
3.        Hinayana percaya dengan adanya satu Buddha, Buddha historis; sementara Mahayana percaya dalam Boddhisatva yang jumlahnya tak terbatas, yang bersumpah untuk mencapai kesempurnaan dan membebaskan semua makhluk hidup dari penderitaan.
4.        Hinayana bertujuan pada pencapaian ke-Arhat-an atau pembebasan individual, sementara Mahayana bertujuan untuk mencapai pembebasan universal.
5.        Hinayana percaya bahwa satu orang mencapai ke-Buddha-an, sementara Mahayana percaya bahwa semua bisa mencapainya karena mereka hakikat Buddha dan keinginan untuk pencerahan (Bodhi).
6.        Hinayana menolak nirvana ke samsara, sementara Mahayana percaya bahwa samsara bukan merupakan negasai nirvana yang harus dicapai dan melalui samsara. Hinayana menekankan kehidupan bhiksu tentang penolakan dunia, sementara Mahayana menekankan kehidupan berumah tangga.
7.        Hinayana memandang penderitaan sebagai sesuatu yang harus dihindari, sementara Mahayana memandangnya sebagai sebuah jalan menuju pembebasan. Didalam Mahayana, Boddhisatva secara sengaja dan senang mengalami penderitaan untuk pembebasan semua makhluk hidup.
8.        Hinayana memandang nirvana sebagai penghilangan transmigrasi, sementara Mahayana memandangnya sebagai sebuah pengalaman transendental Sunyata. Hinayana memandangnya menjadi keadaan negatif, sementara Mahayana memandangnya menjadi sebuah keadaan positif.
9.        Hinayana menekankan abstein dari kejahatan, sementara Mahayana menekankan penggalian kesempurnaan (paramita) dan melakukan kebaikan kepada orang lain. Hinayana bersifat negatif dan berpusat pada diri di dalam pandangannya, sementara Mahayana bersifat positif dan altruistik di dalam pandangannya.
10.    Hinayana adalah realistik, sementara Mahayana idealistik. Hinayana percaya dengan realitas dunia eksternal dan pikiran-pikiran individual atau aliran kesadaran, sementara Mahayana percaya dengan Satu Pikiran, Alayavijnana yang membangun dunia imajiner.
11.    Hinayana percaya di dalam ketidakpermanenan semua fenomena, fisik, dan mental; sementara Mahayana percaya di dalam Sunyata yang numena di belakang fenomena yang tidak permanen. Hukum perubahan adalah tertinggi di dunia fenomenal atau relativitas, tetapi Sunyata tertinggi di dunia Nirvana yang berada di atas relativitas.[15]

F.     Penutup
Buddhisme sudah mengalami banyak perkembangan selama lebih dari dua puluh lima abad. Bukti dari perkembangannya adalah lahirnya dua aliran besar yaitu Hinayana dan Mahayana. Semenjak kedua aliran itu muncul, banyak ajaran-ajaran baru yang semakin memperkaya ajaran Buddhisme. Tidak dapat dipungkiri, munculnya dua aliran besar itu juga menimbulkan banyak perbedaan antar keduanya yang terkadang saling bertentangan, namun banyak pula persamaan antar keduanya. Perbedaan antar keduanya menunjukkan ciri khas masing-masing sebagai aliran Buddhisme, sedangkan persamaannya menunjukkan walau bagaimanapun keduanya tetaplah ajaran Buddhisme. Keduanya menerima prinsip-prinsip ajaran Buddhisme seperti empat kebenaran mulia, jalan mulia berunsur delapan, anatma, karma.

G.    Daftar Pustaka
Arifin, M. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar. Jakarta: PT Golden Trayon Press. 1986.
Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 2003.
Indonesia, Majelis Buddhayana. Kebahagiaan Dalam Dhamma. Depok: Bromo FC. 1980.
Rasyid, Faur, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
Suamba, I. B. Putu. Siwa-Buddha Di Indonesia. Bali: PT Mabhakti. 2007.
Suwarto, T. Buddha Dharma Mahayana. Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia. 1995.




[1] T. Suwarto, Buddha Dharma Mahayana, (Jakarta: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995), h.833.
[2] Faur Rasyid, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[3] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.222.
[4] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha  Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.226.
[5] Faur Rasyid, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[6] Majelis Buddhayana Indonesia, Kebahagiaan Dalam Dhamma, (Depok: Bromo FC, 1980), h.333.
[7] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.108.
[8] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), h.91.
[9] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.109.
[10] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.222.
[11] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.110.
[12] Faur Rasyid, “Aliran Hinayana dan Mahayana”, artikel diakses pada 10 Desember 2014 dari http://alimansur1.blogspot.in/2013/06/makalah-faur-rasyid-aliran-hinayana-dan.html?m=1.
[13] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 1986), h.111.
[14] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.225.
[15] I. B. Putu Suamba, Siwa-Buddha Di Indonesia, (Bali: PT Mabhakti, 2007), h.224.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar