Sabtu, 04 Juni 2016

Cinta Kepada Allah SWT.

CINTA KEPADA ALLAH SWT

Makalah
Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah Akhlak



Dosen : Halimah SM, Dra., M.Ag.
Disusun oleh Kelompok 12
Ridwan Efendi              ( 11140321000023 )
Adiba Zahrotul Wildah ( 11140321000025 )
 Fathur Rohman              ( 11140321000041 )




JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

2014



KATA PENGANTAR


            Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat, karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul“Cinta kepada Allah SWT.”.
            Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Aqidah Akhlak. Selain itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa dalam menyusun karya tulis.
            Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian demi memperbaiki  makalah ini untuk penulisan lain di kemudian hari.
            Dan semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua.Sekian dan terimakasih.



Ciputat, 12 Desember 2014



                                                                                                                                       Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................   i
KATA PENGANTAR ..................................................................................................  ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................  iii  
BAB I      PENDAHULUAN .......................................................................................  1
A.    LatarBelakangMasalah............................................................................ 1
B.    Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C.    TujuanPenulisan...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 3
A.    Niat......................................................................................................... 3
B.     Malu........................................................................................................ 4
C.     Adil......................................................................................................... 6
D.    Amal........................................................................................................ 6
E.     Amar Ma’ruf Nahi Munkar..................................................................... 7
F.      Jujur ........................................................................................................  8
G.    Tawakkal................................................................................................. 9
H.    Murah Hati.............................................................................................. 10
I.       Bersih Jiwanya........................................................................................ 10
J.       Amanah................................................................................................... 11
K.    Sabar ......................................................................................................  12
L.     Menjaga Rahasia..................................................................................... 13
M.   Makan yang Halal................................................................................... 13
BAB III PENUTUP...................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................  16



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Tugas dan misi diutusnya Nabi Muhammad SAW didunia adalah mengadakan transformasi kehidupan masyarakat bangsa Arab yang mana kebiasaan dalam interaksi sosial cenderung menghalalkan segala cara untuk memenuhi kepentingan nafsunya. Dengan kondisi bangsa Arab yang tidak mengindahkan aturan-aturan sosial tersebut, maka kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa obor kebenaran untuk memperbaiki dan merubah kondisi kehidupan masyarakat Arab menjadi sebuah bangsa yang memiliki kondisi peradaban yang mulia.
Hal ini dijelaskan dalam hadits yang artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Berdasarkan hadits tersebut, maka kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai inspirator untuk menanaman nilai-nilai moralitas yang terpuji dalam kehidupan masyarakat dan dari kepribadiannya tersimpan rangkaian mutiara yang amat berharga untuk senantiasa dijadikan panutan umat. Penggambaran kepribadian dan akhlak Nabi Muhammad SAW memberikan suatu informasi bahwa beliau memiliki sifa-sifat yang paripurna yang senantiasa dijadikan contoh tauladan bagi umatnya.
Oleh karena itu, kami sebagai pemakalah memaparkan beberapa diantara akhlak dari Nabi Muhammad SAW yaitu cinta kepada Allah SWT seperti niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar, jujur, tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia, dan makan yang halal dengan tujuan supaya kami dan para pembaca bisa mengaplikasikan sifat-sifat terpuji tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa saja diantara akhlak Nabi SAW yang berupa Cinta kepada Allah SWT?
2.   Apa penjelasan lebih rinci tentang niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar jujur, tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia dan makan yang halal yang mencakup akhlak Nabi SAW seluruhnya?

C.    Tujuan Penulisan
1.  Untuk mengetahui apa saja diantara akhlak Nabi SAW yang berupa Cinta kepada Allah SWT
2.  Untuk mengetahui penjelasan lebih rinci tentang niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar jujur, tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia dan makan yang halal yang mencakup akhlak Nabi SAW seluruhnya





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Niat
Kata niat berasal dari bahasa arab (النية ) yang artinya adalah al-qosd wal-iraadah atau keinginan dan tekad. Ada juga yang mengatakan bahwa arti dari niat adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, dan ini dtegaskan oleh ibnu faris yang mengatakan bahwa asal dari niat adalah (at-tahawwul) atau berpindah, yang kemudian digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan ibadah.[1]
Sementara menurut Syara’ niat adalah
قَصْدُ فعْلِ العبادةِ تَقرُّبًا إلى الله تعالى، بأن يَقْصِد بعملِه اللهَ تعالى دونَ شيءٍ آخرَ، وهذا هو الإخْلاصُ. والعبادةُ إخْلاصُ العملِ بكلّيّتِه لله تعالى

Maksud mengerjakan sebuah amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan tujuan ibadahnya tersebut hanya Allah swt tidak ada tujuan yang lain dan hal ini disebut pula ikhlas. Ibadah adalah pemurnian amal secara keseluruhan hanya kepada Allah semata.
Dari pengertian di atas niat identik dengan ikhlas, sebagimana Imam  Al-Mawardi menguatkan hal itu
الإخلاصُ في كلامِهم هوالنيّة
Ikhlas dalam pandangan ulama adalah niat.

Rasulullah bersabda :
إنّما الأعمالُ بالنيّةِ (رواه الأَئمة الستّة)
Sesungguhnya semua amal-amalan itu tergantung pada niat.”[2]

3
 
Al-Baidhawy berkata: Niat itu ialah bergeraknya hati untuk mengerjakan sesuatu yang dipandang baik, untuk suatu maksud baik untuk menarik suatu manfaat ataupun untuk menolak suatu mudharat, dalam waktu yang cepat atau dalam waktu yang akan datang. Kebanyakan ulama mutaakhirin syafi’iyah mengartikan niat syar’iyah (niat yang dipandang syara’) dengan “menghendaki sesuatu, bersamaan dengan mengerjakannya”.[3]
Niat dalam khazanah ilmu fiqh disebut pemicu ruh dan inti ibadah. Niat menjadi tolak ukur diterima tidaknya ibadah seorang hamba. Suatu amal yang tidak didasari niat yang benar dianggap tidak bernilai. Sebab, terdapat dua kemungkinan bagi seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan. Pertama, ada orang yang mengerjakan suatu pekerjaan tanpa tujuan, tanpa aturan sebagaimana layaknya robot atau mesin. Kedua, ada yang melakukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran dan memiliki tujuan yang jelas. Niatlah yang akan mengantarkan seseorang agar memasuki kelompok kedua.[4]
Aspek niat itu meliputi 3 hal :
1.        Diyakini dalam hati
2.        Diucapkan dengan lisan
3.        Dilakukan dengan amal perbuatan
Jadi niat akan lebih kuat bila ke tiga aspek diatas dilakukan semuanya, sebagai contoh apabila seseorang berniat untuk shalat, hatinya berniat untuk shalat, lisannya mengucapkan niat untuk shalat, dan tubuhnya melakukan amal shalat. Demikian pula apabila kita mengimani segala sesuatu itu haruslah dengan hati yang yakin, ucapan dan tindakan yang selaras.

B.     Malu
Malu adalah salah satu refleksi iman, bahkan malu dan iman akan selalu hadir bersama-sama. Apabila salah satu hilang yang lain juga ikut hilang, semakin kuat iman seseorang semakin teballah rasa malunya demikian pula sebaliknya.
Suatu ketika Rasulullah bersabda yang artinya: Hendaklah kamu merasa malu kepada Allah SWT. dengan malu yang sebenar-benarnya. Para sahabat menjawab: “Yaa Nabiyullah, Alhamdulillah kami sudah merasa malu”, kata Nabi: “Tidak segampang itu yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT dengan sebenarnya malu adalah dengan kemampuan kalian memelihara kepala beserta segala isinya, memelihara perut dan apa yang terkandung didalamnya, banyak-banyak mengingat mati dan cobaan (Allah SWT). Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang telah mengamalkan demikian, maka demikianlah malu yang sebenarnya kepada Allah SWT.” (HR. Tirmidzi dan Abdullah bin Mas’ud)
Rasulullah sebagai uswatun hasanah bagi umatnya dalam pergaulan, beliau adalah figure yang pemalu, diceritakan oleh seorang sahabat yang bernama Abu Sa’id al-Khudry bahwa Rasulullah jika melihat sesuatu yang tidak disukainya warna muka beliau akan berubah.
Sebagai rangkaian dari sifat al-hayaa’ (malu) ialah malu terhadap Allah dan malu kepada diri sendiri dikala melanggar peraturan-peraturan Allah.[5] 
Malu terdiri dari dua macam yaitu malu positif (haya’) dan malu negatif (khizyu). 
Malu Positif (haya’) adalah perpaduan dari rasa malu pada umumnya dan juga rasa takut. Ia akan muncul pada diri manusia disaat ia takut orang lain akan mencela atau membuka aibnya. Malu positif merupakan salah satu emosi yang sangat terpuji, karena ia mampu mendorong manusia untuk menjauhi semua perbuatan yang berakibat buruk. Dalam buku Majmul Fatawa, Ibnu Taimiyah berkata, “Hanya (malu positif) diambil dari kata hayah (kehidupan). Sesungguhnya hati yang hidup akan selalu berjalan beriringan dengan rasa malu positif dan mampu melarang hati untuk tidak berbuat keburukan. Rasulullah sangat memuji rasa malu positif in dan menganggapnya sebagai salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap individu kaum muslimin dan juga manusia pada umumnya.
Malu Negatif (khizyu) adalah perpaduan dari rasa malu pada umumnya dengan rasa terhina dan tercela. Tubuh tanpa sadar akan mengalami perubahan disaat pemiliknya memiliki rasa malu negatif ini. Karena pada saat itulah seseorang akan merasa bersalah, berdosa, dan juga menyesal akan apa yang telah dilakukannya hingga ia merasa dirinya terhina dan harus menundukkan kepalanya serta mengerucutkan tubuhnya seolah ingin hilang dari pandangan manusia.[6] 

C.    Adil
Adil berhubungan dengan perseorangan, adil berhubungan dengan kemasyarakatan, adil berhubungan dengan pemerintah. Adil perseorangan ialah tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Bila seseorang mengambil haknya dengan cara yang benar atau memberi hak orang lain tanpa mengurangi haknya, itulah yang dinamakan tindakan adil. Adil yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan adil yang berhubungan dengan pemerintahan misalnya tindakan hakim menghukum orang-orang yang jahat atau orang-orang yang bersengketa sepanjang neraca keadilan.[7]
Sebagian Ulama berpendapat bahwa: “Orang yang adil itu ialah orang yang jika marah, kemarahannya itu tidak menjerumuskannya kepada kebatilan. Dan apabila ia senang, kesenangannya itu tidak mengeluarkannya dari kebenaran.”[8]
Dari Al-Kharaithi meriwayatkan dengan sanadnya dari Amar bin Yasir ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak sempurna Iman seorang hamba hingga ia mempunyai tiga perilaku.” Kemudian Amar bertanya, “Apa ketiga perilaku itu?”. Rasulullah SAW. menjawab: “Memberi sedekaah dalam keadaan susah, berlaku adil terhadap diri sendiri, dan menebarkan salam.”[9]

D.    Amal  
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, amal diartikan sebagai perbuatan (baik atau buruk). Secara istilah, amal shaleh berarti perbuatan sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah ataupun menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW selepas sholat berdoa menangis hingga kesedihannya terasa oleh istrinya Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis memohon ampunan padahal engkau telah di jamin Surganya oleh Allah.” Lalu Nabi Muhammad SAW menjawab dengan tegas, “Siapakah yang bisa menjaminku wahai istriku? Sedangkan saudaraku Nabi Yunus AS ketika dia bersandar pada amalnya sesaat saja, dia merasa aman terhadap amalnya, Allah kurung dia dalam perut ikan paus selama 40 hari.” Nabi saja Allah hukum didalam laut karena tidak ada risau terhadap amalnya. Nabi Yunus AS meninggalkan umatnya mencari tempat yang lebih baik untuk dakwah pada kaum yang lain. Nabi Yunus AS tidak merasa khawatir dengan perbuatannya meninggalkan kaumnya ketika itu. Nabi Yunus AS merasa aman dan tidak ada kekhawatiran terhadap amalnya tersebut. Padahal Allah perintahkan dia untuk tetap dikampung tersebut. Sesaat merasa aman dari amalnya, Allah kurung Nabi Yunus AS didalam perut ikan paus, hingga dia bertobat kepada Allah SWT.[10]
Berdasarkan cerita diatas, dapat diketahui bahwa suatu amal yang manusia lakukan bahkan Nabi dan para sahabat lakukan tidak semuanya diterima oleh Allah. Serta jangan pernah merasa sudah banyak melakukan amal baik karena itu akan menimbulkan sifat sombong yang tentunya Allah sangat murka terhadap sifat sombong tersebut dan dengan timbulnya sifat sombong tersebut maka pahala dari amal baik tersebut akan dihapus oleh Allah. Masalah terima atau tidaknya adalah urusan Allah, sebagai hamba-Nya kita hanya bisa melakukan perbuatan dengan sebaik-baiknya.

E.     Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Menurut ilmu bahasa, arti amar ma’ruf nahi munkar ialah menyuruh kepada kebaikan, mencegah kejahatan. Amar artinya menyuruh, ma’ruf artinya kebaikan, nahi artinya mencegah, dan munkar artinya kejahatan. Istilah amar ma’ruf nahi munkar itu menunjukkan semua kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat yang baik, yang sepanjang masa diterima oleh hati nurani manusia sebagai sesuatu yang baik.[11]
Amar ma’ruf nahi munkar merupakan penegakan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah melalui dakwahnya, baik dakwah secara sembunyi-sembunyi maupun dakwah secara terang-terangan. Dalam dakwahnya Rasulullah selalu mengajak umatnya untuk mengetahui keesaan Allah SWT, Rasulullah juga mengarahkan umatnya untuk selalu melakukan kebaikan dan tidak pernah memiliki niatan untuk menyesatkan umatnya karena hal ini dilakukan agar umatnya tidak keluar dari jalur ajaran agama Islam yang telah disyari’atkan. Sebenarnya bentuk perbuatan amar ma’ruf nahi munkar itu sangat banyak, namun dalam prakteknya masih sangat minim. 
Seperti firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 110 yang artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka , diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang – orang yang fasik.”
Sebagai hamba Allah SWT kita harus menaati apa yang telah diperintahkan dan menjauhi apa yang telah dilarang-Nya seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan  yang baik bagi umatnya.

F.     Jujur
Rasulullah SAW. adalah imam bagi orang-orang yang jujur, perintah berperilaku jujur baginya merupakan pembawaan dan sifat yang lazim yang terdapat dalam dirinya sejak masa kanak-kanak hingga menjadi tauladan yang mesti diikuti oleh seluruh manusia dimuka bumi, sebagai rahmatal lil ‘alamin. Rasulullah mengajak kita kepada kejujuran dan memerintahkan supaya betindak jujur, sebab bertindak jujur dapat menentramkan hati sehingga ketenangan dapat menyelimuti jiwa dan orang dapat menjadi aman dan nyaman. Sebaliknya kedustaan yang menyempitkan jiwa merupakan satu ssifat yang menimbulkan kegoncangan dan keragu-raguan didalam hati.
Sumber kejujuran adalah hati maka jujur harus disesuaikan dengan niat yang benar dan ikhlas, seorang mu’min akan benar-benar mendapat derajat kemuliaan yang tinggi dengan melihat pada kebenaran niatnya yang sempurna serta kesucian hati dan batinnya.
Sifat jujur Rasulullah SAW. diimplementasikan dalam pergaulannya ditengah-tengah masyarakat dengan sifat ini banyak orang merasa simpati dan kagum akan kepribadiannya. Indikasi ini diperlihatkan oleh beliau ketika sebelum diangkat menjadi rasul, beliau dipercaya oleh Siti Khadijah untuk membawa barang-barang dagangannya yang akan dijualbelikan di negeri Syam. Ternyata kepercayaan ini dijaga dan dijalankan dengan penuh amanah, sehingga hasil dagangannya memperoleh keuntungan yang besar.
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah. Engkau bergurau dengan kami.’ Beliau bersabda, innii laa aquulu illa haqqan yang artinya ‘Aku tidak berkata kecuali benar’.
Metode dalam menampilkan sifat jujur Rasul yaitu dengan mendatangkan kesaksian-kesaksian atas kejujuran Rasulullah SAW. Kesaksian ini sebagai berikut :
a.         Kesaksian musuh-musuh Rasulullah
b.        Kesaksian para pengikut Rasulullah
c.         Kesaksian realitas yang mencakup empat hal: pemberian kabar, berjanji dan membuat perjanjian, canda, serta dalam nubuat.[12]

G.    Tawakkal
Tawakkal ialah berserah diri kepada Allah dan menerima apa saja yang telah di tentukan-Nya, tetapi dengan cara berusah (ikhtiar) sekuat tenaga dan disertai dengan doa. Satu kesalahan yang tidak dapat dibenarkan apabila ada yang berkata, bahwa tawakkal itu meninggalkan usaha. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadits, bahwasanya suatu hari Rasulullah melihat orang Baduwi melepas untanya tanpa diikat, ketika ditanya kepadanya, mengapa berbuat demikian?, jawabnya, saya tawakkal kepada Allah”. Rasulullah saw bersabda, “Bukan itu yang disebut tawakkal, tetapi ikatlah dahulu, kemudian baru tawakkal.
Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 49 yang artinya : “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[13] 

H.    Murah Hati
Nabi menganjurkan untuk bermurah hati kepada siapapun. Orang yang murah hati akan mendapat curahan rahmt dan ampuna, rezekinya dilapangkan dan hidupnya tenteram sejahtera.
Salah satu contoh dari murah hati adalah dermawan, Rasulullah telah mencontohkan kepada umatnya bahwa sikap dermawan harus ditumbuhkan, baik dermawan kepada orang kawan ataupun kepada lawan.
Dari Shafwan bin Umayyah : “Rasulullah saw memberiku hasil perang hunain, padahal beliau adalah orang yang paling ku benci. Beliau memberi dan terus memberi sampai menjadi manusia yang paling kucintai” (H.R at-Tirmidzi)
Ini adalah kisah yang merupakan kunci berharga untuk menyibak pribadi tiada tara itu. bahkan seorang musuhpun mengatakan bukti kesaksiannya, padahal sudah lazimnya musuh mencari-cari kejelekan bukan kebaikan lawannya.[14]  Ini merupakan pribadi yang patut dicontoh oleh umatnya.

I.       Bersih Jiwanya
 Jika kita pelajari sirah Muhammad secara proporsional akan kita temukan potret yang sesuai antara perkataan dan perbuatannya, serta akan senantiasa menjelaskan dan menampakkan jiwa beliau yang agung yang diselimuti akhlak mulia dan tiak tertutupi keangkuhan tidak pula terhalang rasa riya’. Akhlak Rasul bersih dan suci, tak tercampuri dengan apa yangdicela manusia kecuali jika orang yang mencelanya telah buta hatinya, yang melihat kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kebaikan atau orang yang dengki dan sombong yang telah dibutakan oleh rasa dengki dari melihat kebenaran yang tidak tersembunyi dari seseorang. Seseorang yang mengenal Rasulullah SAW dalam zamannya baik kawan maupun lawan pasti mengakui dalam hatinya bahwa akhlak Muhammad tak bisa dijamah tangan kotor para pencela. Dahulu, ayah dari istri musuh Nabi yang masih kafir berkata dan perkataan itu sampai pada putrinya yang menjadi istri Rasulullah SAW tersebut. Perkataannya, “Dia (Muhammad) adalah lelaki yang tak ada cacat celanya.”
Ikrimah bin Abi Jahal setelah permusuhan yang panjang bersama ayahnya pada Rasulullah SAW berkata pada saat masuk Islam, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah semata, tak ada sekutu bagi-Nya, dan engkau adalah hamba dan utusan-Nya, engkau adalah manusia paling baik, paling jujur dan paling setia.” Ikrimah berkata, “Aku katakana itu dengan kepala tertunduk dalam-dalam karena sangat malu pada beliau.”[15]

J.      Amanah
Amanah menurut bahasa (etimologi) ialah kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan (istiqomah) atau kejujuran. Betapa pentingnya sifat dan sikap amanah ini dipertahankan sebagai akhlakul karimah dalam masyarakat, jika sifat dan sikap itu hilang dari tatanan sosial umat Islam, maka kehancuranlah yang akan terjadi bagi umat itu.[16]
Rasulullah saw mempunyai sifat al-Iltizamul Kamil atau komitmen dan sifat amanah yang sempurna dengan apa yang ia serukan, sebagai wakil dari Allah. Tugas  Rasul adalah menyampaikan manusia risalah yang dibebankan oleh Allah kepada mereka. Apabila seorang rasul sendiri tidak menegakkan kandungan risalah itu, maka hal itu menunjukkan bahwa ia tidak berinteraksi dengan isi risalah tersebut dan itu menjadi bukti kedustaannya dalam menyampaikan risalah. Seorang Rasul yang mempunyai hubungan langsung dengan Allah, pastilah amat mengerti tentang keagungan Allah dan tidak mungkin melanggar perintah Allah. Tidakan melanggar perintah Allah adalah suatu pengkhianatan kepada-Nya, dan orang-orang yang tidak amanah tetunya tidak pantas mengemban risalah.[17]

K.    Sabar
Sabar secara terminology berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharapkan ridho Allah SWT. Sabar secara luas bisa diartikan sebagai sikap tak gelisah (jaz’ an nafs) ketika tertimpa musibah akan tetapi pengertian ini meluas hingga lebih banyak lagi dari ini sesuai dengan keragaman kaitan yang lebih lanjut berimplikasi pada perbedaan istilahnya. Dalam beberapa kondisi khusus, sabar juga disebut dengan istilah ‘iffah, control diri (dhabth an nafs), berani, kemurahan (hilm), lapang dada, zuhud dan qana’ah.
Dengan demikian, perilaku sabar nyaris meliputi sebagian besar perilaku-perilaku utama. Al-Ghozali mengatakan : Terpuji yang sempurna adalah kesabaran diri untuk tidak melahap segala sesuatu yang dihasrati watak atau tabi’at dan dituntut hawa nafsu.
Sebagian besar akhlak keimanan masuk dalam bingkai kesabaran. Karena itu, ketika ditanya mengenai iman, Rasulullah SAW. bersabda, “Ia adalah sabar”, sebab sabar merupakan amal keimanan yang paling banyak dan paling mulia.[18]
Rasulullah SAW. telah mengimplementasikan segala macam sabar dalam kehidupan beliau sehari-hari, dimana sabar beliau jadikan perisai yang ampuh dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan terutama dalam menjalankan misi dakwahnya. Selama tiga belas tahun berdakwah di kota Mekkah banyak skali tantangan dari kaum Quraisy yang tidak mau menerima misi dakwahnya yang disampaikan. Berbagai tantangan dan hambatan, yang diperhadapkan kepada-Nya, misalnya dihina, disakiti perasaannya, dizalimi, baik dengan perbuatan maupun perkataan dan lain sebagainya. Namun tidak menyurutkan semangat perjuangannya. Beliau tetap berpegang dengan firman Allah SWT (QS. 73:10) yang artinya Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan jalan yang baik.

L.     Menjaga Rahasia
Menjaga rahasia merupakan akhlak setiap muslim, apalagi rahasia tersebut berupa aib saudara dan keluarga, siapa yang bisa menjaga rahasia saudaranya,maka dia akan ditutup juga rahasianya oleh Allah.
Suatu hari Rasulullah saw naik ke ata mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi “Janganlah kalian menyakiti kaum muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesame muslim, Allah akan mencari-cari auatnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada ditengah tempat tinggalnya.” (Dari Abdullah bin ‘Umar)
Dalam hadits diatas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan. Nabi SAW menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, jauh dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.[19]

M.   Makan yang Halal
Termasuk dalam kelebihan Muhammad SAW adalah beliau tak pernah memakan barang haram. Sesungguhnya taraf yang demikian bisa juga dicapai oleh sebagian orang. Namun keistimewaan nya adalah bahwa Muhammad SAW juga mengharamkan diri untuk memakan yang halal apabila makanan halal tersebut menurunkan derajat maqamnya.
        Rasulullah apabila mendapatkan kiriman selalu bertanya, “Ini sedekah atau hadiah?” bila dikatakan bahwa itu sedekah, maka beliau tidak memakannya. Bila dikatakan sebagai hadiah, beliau memakannya. (H.R at-Tirmidzi)
        Rasulullah tidak mau memakan sedekah walau dengan kerelaan pemiliknya. Sungguh kuat daya tehannya untuk memelihara kesucian diri bahkan Rasulullah juga mengharapkan bagi dirinya harta-harta zakat yang merupakan harta masyarakat. Ketetapannya yang abadi dan cemerlang dalam sejarah adalah “Sedekah tidak dihalalkan bagi kami, dan budak-budak suatu kaum merupakan dari kaum itu.” (H.R at-Tirmidzi).[20]




BAB III
PENUTUP

  Dari materi diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak Rasulullah SAW bermuara kepada cinta kepada Allah, dan teladannya yang baik patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari, Karena Allah telah memberikan sosok seorang utusan dengan akhlak yang mulia, akhlak Rasulullah sebagai akhlak Al-Qur’an, maka kita sebagai umatnya wajib mengikuti apa yang telah diperintahkan olehnya, karena ia merupakan Uswah Hasanah untuk kita umatnya (Q.S al-Ahzab: 21).
Dengan sifat-sifat dari akhlak Rasul yang telah disebutkan diatas berupa niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar, jujur, tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia dan makan yang halal juga sifat-sifat Nabi yang lain merupakan panutan yang baik bagi kita semua untuk diteladani dikehidupan sehari-hari.
Demikian penjelasan dari kami mengenai akhlak Nabi SAW yang berupa Cinta kepada Allah SWT. Kami mohon maaf karena makalah ini tidak jauh dari kesalahan, maka dari itu kami membutuhkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfa’at untuk kita semua.  




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yatimin. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Amzah. 2007.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. Mutiara Hadis 1. Semarang: Pustaka Rizky Putra. 2002.
Az-Zahrani, Musfir bin Said. Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani Press. 2005.
Hajjaj, Muhammad Fauqi. Tasawuf Islam dan Akhlak. Jakarta: Amzah. 2011.
Hawwa, Said. Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jakarta: Gema Insani. 2007.
Mahmud, Ali Abdul Halim. Akhlak Mulia. Jakarta: Gema Insani. 2004.
Noer , Jefry. Shalat yang Benar. Jakarta: Prenada Media. 2006.
Qayyim, Ibnu. Risalah Tabukiyah. Yaman: Maktabah Dar Al-Quds.
Syalabi, Mahmud. Kepribadian Rasulullah. Solo: Pustaka Mantiq. 1996.
Diakses pada 17 Desember 2014 dari http://andrezyrus.wordpress.com.
Diakses pada 17 Desember 2014 dari http://buyaathaillah.wordpress.com.
Diakses pada 18 Desember 2014 dari http://Gemirasolok.blogspot.com.
Diakses pada 12 Desember 2014 dari https://huliyyu.wordpress.com.
Diakses pada 12 Desember 2014 dari http://syfakumala.blogspot.com.

            

[1] Diakses pada 12 Desember 2014 dari https://huliyyu.wordpress.com.
[2] Diakses pada 12 Desember 2014 dari http://syfakumala.blogspot.com.
[3] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadis 1, (Semarang: Pustaka Rizky Putra, 2002), h.4.
[4] Jefry Noer, Shalat yang Benar, (Jakarta: Prenada Media, 2006), h.3.
[5] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.45.
[6] Musfir bin Said Az-Zahrani, Konseling Terapi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), h.221-225.
[7] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.43.
[8] Ibnu Qayyim, Risalah Tabukiyah, (Yaman: Maktabah Dar Al-Quds), h.63.
[9] Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004), h.251.
[10] Diakses pada 17 Desember 2014 dari http://buyaathaillah.wordpress.com.
[11] Diakses pada 17 Desember 2014 dari http://andrezyrus.wordpress.com.
[12] Said Hawwa, Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, (Jakarta: Gema Insani, 2007), h.29.
[13] M.Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.204-205.
[14] Mahmud Syalabi, Kepribadian Rasulullah, (Solo: Pustaka Mantiq, 1996), h.108.
[15] Said Hawwa, Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, (Jakarta: Gema Insani, 2007), h.160-161.

[16] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.43.
[17] Said Hawwa, Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, (Jakarta: Gema Insani, 2007), h.28.
[18] Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam dan Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2011),h. 304-305.
[19] Diakses pada 18 Desember 2014 dari http://Gemirasolok.blogspot.com.
[20] Mahmud Syalabi, Kepribadian Rasulullah, (Solo: Pustaka Mantiq, 1996), h.106.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar