Makalah
Diajukan
untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah Akhlak
Dosen
: Halimah SM, Dra., M.Ag.
Disusun oleh Kelompok 12
Ridwan Efendi (
11140321000023 )
Adiba Zahrotul Wildah ( 11140321000025
)
Fathur
Rohman ( 11140321000041
)
JURUSAN PERBANDINGAN
AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat,
karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul“Cinta kepada
Allah SWT.”.
Makalah ini disusun bertujuan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Aqidah Akhlak. Selain itu sebagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa dalam menyusun karya tulis.
Kami menyadari bahwa masih terdapat
banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena
itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian demi
memperbaiki makalah ini untuk penulisan
lain di kemudian hari.
Dan
semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua.Sekian dan
terimakasih.
Ciputat, 12
Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A.
LatarBelakangMasalah............................................................................
1
B.
Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C.
TujuanPenulisan...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................................
3
A.
Niat.........................................................................................................
3
B.
Malu........................................................................................................
4
C.
Adil.........................................................................................................
6
D.
Amal........................................................................................................
6
E.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar.....................................................................
7
F.
Jujur ........................................................................................................ 8
G.
Tawakkal.................................................................................................
9
H.
Murah Hati..............................................................................................
10
I.
Bersih Jiwanya........................................................................................
10
J.
Amanah...................................................................................................
11
K.
Sabar ...................................................................................................... 12
L.
Menjaga Rahasia.....................................................................................
13
M.
Makan yang Halal...................................................................................
13
BAB III PENUTUP......................................................................................................
15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 16
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Tugas dan misi diutusnya Nabi Muhammad
SAW didunia adalah mengadakan transformasi kehidupan masyarakat bangsa Arab
yang mana kebiasaan dalam interaksi sosial cenderung menghalalkan segala cara
untuk memenuhi kepentingan nafsunya. Dengan kondisi bangsa Arab yang tidak mengindahkan aturan-aturan sosial
tersebut, maka kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa obor kebenaran untuk
memperbaiki dan merubah kondisi kehidupan masyarakat Arab menjadi sebuah bangsa
yang memiliki kondisi peradaban yang mulia.
Hal ini dijelaskan dalam hadits yang
artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Berdasarkan hadits tersebut, maka kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai
inspirator untuk menanaman nilai-nilai moralitas yang terpuji dalam kehidupan
masyarakat dan dari kepribadiannya tersimpan rangkaian mutiara yang amat
berharga untuk senantiasa dijadikan panutan umat. Penggambaran kepribadian dan
akhlak Nabi Muhammad SAW memberikan suatu informasi bahwa beliau memiliki
sifa-sifat yang paripurna yang senantiasa dijadikan contoh tauladan bagi
umatnya.
Oleh karena itu, kami sebagai pemakalah
memaparkan beberapa diantara akhlak dari Nabi Muhammad SAW yaitu cinta kepada
Allah SWT seperti niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar, jujur,
tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia, dan makan
yang halal dengan tujuan supaya kami dan para pembaca bisa mengaplikasikan
sifat-sifat terpuji tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa saja diantara akhlak Nabi SAW yang berupa Cinta kepada Allah SWT?
2. Apa
penjelasan lebih rinci tentang niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar
jujur, tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia dan
makan yang halal yang mencakup akhlak Nabi SAW seluruhnya?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui apa saja diantara akhlak Nabi SAW yang berupa Cinta kepada Allah SWT
2. Untuk
mengetahui penjelasan lebih rinci tentang niat, malu, adil, amal, amar ma’ruf
nahi munkar jujur, tawakkal, murah hati, bersih jiwanya, amanah, sabar, menjaga
rahasia dan makan yang halal yang mencakup akhlak Nabi SAW seluruhnya
PEMBAHASAN
A.
Niat
Kata niat berasal dari bahasa arab (النية )
yang artinya adalah al-qosd wal-iraadah atau keinginan dan tekad. Ada
juga yang mengatakan bahwa arti dari niat adalah perpindahan dari satu tempat
ke tempat lain, dan ini dtegaskan oleh ibnu faris yang mengatakan bahwa asal
dari niat adalah (at-tahawwul) atau berpindah, yang kemudian digunakan
untuk hal-hal yang berhubungan dengan ibadah.[1]
Sementara menurut Syara’ niat adalah
قَصْدُ فعْلِ
العبادةِ تَقرُّبًا إلى الله تعالى، بأن يَقْصِد بعملِه اللهَ تعالى دونَ شيءٍ
آخرَ، وهذا هو الإخْلاصُ. والعبادةُ إخْلاصُ العملِ بكلّيّتِه لله تعالى
“Maksud mengerjakan sebuah amal ibadah untuk mendekatkan diri
kepada Allah swt dengan tujuan ibadahnya tersebut hanya Allah swt tidak ada
tujuan yang lain dan hal ini disebut pula ikhlas. Ibadah adalah pemurnian amal
secara keseluruhan hanya kepada Allah semata.”
Dari pengertian di atas niat identik dengan ikhlas,
sebagimana Imam Al-Mawardi menguatkan hal itu
الإخلاصُ في
كلامِهم هوالنيّة
Ikhlas dalam
pandangan ulama adalah niat.
Rasulullah bersabda :
إنّما
الأعمالُ بالنيّةِ (رواه الأَئمة الستّة)
“Sesungguhnya semua
amal-amalan itu tergantung pada niat.”[2]
|
Al-Baidhawy berkata:
Niat itu ialah bergeraknya hati untuk mengerjakan sesuatu yang dipandang baik,
untuk suatu maksud baik untuk menarik suatu manfaat ataupun untuk menolak suatu
mudharat, dalam waktu yang cepat atau dalam waktu yang akan datang. Kebanyakan
ulama mutaakhirin syafi’iyah mengartikan niat syar’iyah (niat yang dipandang
syara’) dengan “menghendaki sesuatu, bersamaan dengan mengerjakannya”.[3]
Niat dalam khazanah
ilmu fiqh disebut pemicu ruh dan inti ibadah. Niat menjadi tolak ukur diterima
tidaknya ibadah seorang hamba. Suatu amal yang tidak didasari niat yang benar
dianggap tidak bernilai. Sebab, terdapat dua kemungkinan bagi seseorang yang
mengerjakan suatu perbuatan. Pertama, ada orang yang mengerjakan suatu
pekerjaan tanpa tujuan, tanpa aturan sebagaimana layaknya robot atau mesin.
Kedua, ada yang melakukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran dan memiliki
tujuan yang jelas. Niatlah yang akan mengantarkan seseorang agar memasuki
kelompok kedua.[4]
Aspek niat itu meliputi 3 hal :
1.
Diyakini dalam hati
2.
Diucapkan dengan lisan
3.
Dilakukan dengan amal perbuatan
Jadi niat akan lebih kuat bila ke tiga aspek
diatas dilakukan semuanya, sebagai contoh apabila seseorang berniat untuk
shalat, hatinya berniat untuk shalat, lisannya mengucapkan niat untuk shalat,
dan tubuhnya melakukan amal shalat. Demikian pula apabila kita mengimani segala
sesuatu itu haruslah dengan hati yang yakin, ucapan dan tindakan yang selaras.
B.
Malu
Malu adalah salah satu refleksi iman,
bahkan malu dan iman akan selalu hadir bersama-sama. Apabila salah satu hilang
yang lain juga ikut hilang, semakin kuat iman seseorang semakin teballah rasa
malunya demikian pula sebaliknya.
Suatu ketika Rasulullah bersabda yang
artinya: Hendaklah kamu merasa malu kepada Allah SWT. dengan malu yang sebenar-benarnya.
Para sahabat menjawab: “Yaa Nabiyullah, Alhamdulillah kami sudah merasa malu”,
kata Nabi: “Tidak segampang itu yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT
dengan sebenarnya malu adalah dengan kemampuan kalian memelihara kepala beserta
segala isinya, memelihara perut dan apa yang terkandung didalamnya,
banyak-banyak mengingat mati dan cobaan (Allah SWT). Siapa yang menginginkan
akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang telah mengamalkan
demikian, maka demikianlah malu yang sebenarnya kepada Allah SWT.” (HR.
Tirmidzi dan Abdullah bin Mas’ud)
Rasulullah sebagai uswatun hasanah bagi
umatnya dalam pergaulan, beliau adalah figure yang pemalu, diceritakan oleh
seorang sahabat yang bernama Abu Sa’id al-Khudry bahwa Rasulullah jika melihat
sesuatu yang tidak disukainya warna muka beliau akan berubah.
Sebagai rangkaian dari sifat al-hayaa’ (malu) ialah malu terhadap Allah dan malu kepada diri sendiri dikala
melanggar peraturan-peraturan Allah.[5]
Malu terdiri dari dua macam yaitu malu positif
(haya’) dan malu negatif (khizyu).
Malu
Positif (haya’) adalah perpaduan dari rasa malu pada
umumnya dan juga rasa takut. Ia akan muncul pada diri manusia disaat ia takut
orang lain akan mencela atau membuka aibnya. Malu positif merupakan salah satu
emosi yang sangat terpuji, karena ia mampu mendorong manusia untuk menjauhi
semua perbuatan yang berakibat buruk. Dalam buku Majmul Fatawa, Ibnu Taimiyah
berkata, “Hanya (malu positif) diambil dari kata hayah (kehidupan).
Sesungguhnya hati yang hidup akan selalu berjalan beriringan dengan rasa malu
positif dan mampu melarang hati untuk tidak berbuat keburukan. Rasulullah
sangat memuji rasa malu positif in dan menganggapnya sebagai salah satu sifat
terpuji yang harus dimiliki oleh setiap individu kaum muslimin dan juga manusia
pada umumnya.
Malu
Negatif (khizyu) adalah perpaduan dari rasa malu pada
umumnya dengan rasa terhina dan tercela. Tubuh tanpa sadar akan mengalami
perubahan disaat pemiliknya memiliki rasa malu negatif ini. Karena pada saat
itulah seseorang akan merasa bersalah, berdosa, dan juga menyesal akan apa yang
telah dilakukannya hingga ia merasa dirinya terhina dan harus menundukkan
kepalanya serta mengerucutkan tubuhnya seolah ingin hilang dari pandangan
manusia.[6]
C.
Adil
Adil berhubungan dengan perseorangan,
adil berhubungan dengan kemasyarakatan, adil berhubungan dengan pemerintah.
Adil perseorangan ialah tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Bila
seseorang mengambil haknya dengan cara yang benar atau memberi hak orang lain
tanpa mengurangi haknya, itulah yang dinamakan tindakan adil. Adil yang
berhubungan dengan kemasyarakatan dan adil yang berhubungan dengan pemerintahan
misalnya tindakan hakim menghukum orang-orang yang jahat atau orang-orang yang
bersengketa sepanjang neraca keadilan.[7]
Sebagian Ulama berpendapat bahwa: “Orang
yang adil itu ialah orang yang jika marah, kemarahannya itu tidak
menjerumuskannya kepada kebatilan. Dan apabila ia senang, kesenangannya itu
tidak mengeluarkannya dari kebenaran.”[8]
Dari Al-Kharaithi meriwayatkan dengan
sanadnya dari Amar bin Yasir ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak
sempurna Iman seorang hamba hingga ia mempunyai tiga perilaku.” Kemudian Amar bertanya, “Apa ketiga
perilaku itu?”. Rasulullah SAW. menjawab: “Memberi sedekaah dalam keadaan
susah, berlaku adil terhadap diri sendiri, dan menebarkan salam.”[9]
D.
Amal
Menurut kamus
besar bahasa Indonesia, amal diartikan sebagai perbuatan (baik atau buruk).
Secara istilah, amal shaleh berarti perbuatan sungguh-sungguh dalam menjalankan
ibadah ataupun menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat
kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia.
Suatu ketika
Nabi Muhammad SAW selepas sholat berdoa menangis hingga kesedihannya terasa
oleh istrinya Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa
engkau menangis memohon ampunan padahal engkau telah di jamin Surganya oleh
Allah.” Lalu Nabi Muhammad SAW menjawab dengan tegas, “Siapakah yang bisa
menjaminku wahai istriku? Sedangkan saudaraku Nabi Yunus AS ketika dia
bersandar pada amalnya sesaat saja, dia merasa aman terhadap amalnya, Allah
kurung dia dalam perut ikan paus selama 40 hari.” Nabi saja Allah hukum didalam
laut karena tidak ada risau terhadap amalnya. Nabi Yunus AS meninggalkan
umatnya mencari tempat yang lebih baik untuk dakwah pada kaum yang lain. Nabi
Yunus AS tidak merasa khawatir dengan perbuatannya meninggalkan kaumnya ketika
itu. Nabi Yunus AS merasa aman dan tidak ada kekhawatiran terhadap amalnya
tersebut. Padahal Allah perintahkan dia untuk tetap dikampung tersebut. Sesaat
merasa aman dari amalnya, Allah kurung Nabi Yunus AS didalam perut ikan paus,
hingga dia bertobat kepada Allah SWT.[10]
Berdasarkan
cerita diatas, dapat diketahui bahwa suatu amal yang manusia lakukan bahkan
Nabi dan para sahabat lakukan tidak semuanya diterima oleh Allah. Serta jangan
pernah merasa sudah banyak melakukan amal baik karena itu akan menimbulkan
sifat sombong yang tentunya Allah sangat murka terhadap sifat sombong tersebut
dan dengan timbulnya sifat sombong tersebut maka pahala dari amal baik tersebut
akan dihapus oleh Allah. Masalah terima atau tidaknya adalah urusan Allah,
sebagai hamba-Nya kita hanya bisa melakukan perbuatan dengan sebaik-baiknya.
E.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Menurut ilmu bahasa, arti amar ma’ruf nahi munkar ialah menyuruh
kepada kebaikan, mencegah kejahatan. Amar
artinya menyuruh, ma’ruf artinya
kebaikan, nahi artinya mencegah, dan munkar artinya kejahatan. Istilah amar ma’ruf nahi munkar itu menunjukkan
semua kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat yang baik, yang sepanjang masa diterima
oleh hati nurani manusia sebagai sesuatu yang baik.[11]
Amar ma’ruf nahi munkar
merupakan penegakan kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah melalui
dakwahnya, baik dakwah secara sembunyi-sembunyi maupun dakwah secara
terang-terangan. Dalam dakwahnya Rasulullah selalu
mengajak umatnya untuk mengetahui keesaan Allah SWT, Rasulullah juga
mengarahkan umatnya untuk selalu melakukan kebaikan dan tidak pernah memiliki
niatan untuk menyesatkan umatnya karena hal ini dilakukan agar umatnya tidak
keluar dari jalur ajaran agama Islam yang telah disyari’atkan. Sebenarnya
bentuk perbuatan amar ma’ruf nahi munkar itu sangat banyak, namun dalam
prakteknya masih sangat minim.
Seperti firman Allah dalam
surat Ali Imron ayat 110 yang artinya : “Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli
kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka , diantara mereka ada yang
beriman dan kebanyakan mereka adalah orang – orang yang fasik.”
Sebagai hamba Allah SWT kita harus
menaati apa yang telah diperintahkan dan menjauhi apa yang telah dilarang-Nya
seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan yang baik bagi umatnya.
F.
Jujur
Rasulullah SAW. adalah imam bagi
orang-orang yang jujur, perintah berperilaku jujur baginya merupakan pembawaan
dan sifat yang lazim yang terdapat dalam dirinya sejak masa kanak-kanak hingga
menjadi tauladan yang mesti diikuti oleh seluruh manusia dimuka bumi, sebagai rahmatal lil ‘alamin. Rasulullah
mengajak kita kepada kejujuran dan memerintahkan supaya betindak jujur, sebab
bertindak jujur dapat menentramkan hati sehingga ketenangan dapat menyelimuti
jiwa dan orang dapat menjadi aman dan nyaman. Sebaliknya kedustaan yang
menyempitkan jiwa merupakan satu ssifat yang menimbulkan kegoncangan dan
keragu-raguan didalam hati.
Sumber kejujuran adalah hati maka jujur
harus disesuaikan dengan niat yang benar dan ikhlas, seorang mu’min akan
benar-benar mendapat derajat kemuliaan yang tinggi dengan melihat pada
kebenaran niatnya yang sempurna serta kesucian hati dan batinnya.
Sifat jujur Rasulullah SAW.
diimplementasikan dalam pergaulannya ditengah-tengah masyarakat dengan sifat
ini banyak orang merasa simpati dan kagum akan kepribadiannya. Indikasi ini
diperlihatkan oleh beliau ketika sebelum diangkat menjadi rasul, beliau
dipercaya oleh Siti Khadijah untuk membawa barang-barang dagangannya yang akan
dijualbelikan di negeri Syam. Ternyata kepercayaan ini dijaga dan dijalankan
dengan penuh amanah, sehingga hasil dagangannya memperoleh keuntungan yang
besar.
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu
Hurairah berkata, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah. Engkau bergurau
dengan kami.’ Beliau bersabda, innii laa
aquulu illa haqqan yang artinya ‘Aku tidak berkata kecuali benar’.
Metode dalam menampilkan sifat jujur
Rasul yaitu dengan mendatangkan kesaksian-kesaksian atas kejujuran Rasulullah
SAW. Kesaksian ini sebagai berikut :
a.
Kesaksian musuh-musuh Rasulullah
b.
Kesaksian para pengikut Rasulullah
c.
Kesaksian realitas yang mencakup empat
hal: pemberian kabar, berjanji dan membuat perjanjian, canda, serta dalam
nubuat.[12]
G.
Tawakkal
Tawakkal ialah berserah diri kepada
Allah dan menerima apa saja yang telah di tentukan-Nya, tetapi dengan cara
berusah (ikhtiar) sekuat tenaga dan disertai dengan doa. Satu kesalahan yang
tidak dapat dibenarkan apabila ada yang berkata, bahwa tawakkal itu
meninggalkan usaha. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadits, bahwasanya
suatu hari Rasulullah melihat orang Baduwi melepas untanya tanpa diikat, ketika
ditanya kepadanya, mengapa berbuat demikian?, jawabnya, saya tawakkal kepada
Allah”. Rasulullah saw bersabda, “Bukan itu yang disebut tawakkal, tetapi
ikatlah dahulu, kemudian baru tawakkal.”
Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 49 yang artinya : “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[13]
H.
Murah Hati
Nabi menganjurkan untuk bermurah hati
kepada siapapun. Orang yang murah hati akan mendapat curahan rahmt dan ampuna,
rezekinya dilapangkan dan hidupnya tenteram sejahtera.
Salah satu contoh dari murah hati adalah
dermawan, Rasulullah telah mencontohkan kepada umatnya bahwa sikap dermawan
harus ditumbuhkan, baik dermawan kepada orang kawan ataupun kepada lawan.
Dari Shafwan bin Umayyah : “Rasulullah
saw memberiku hasil perang hunain, padahal beliau adalah orang yang paling ku
benci. Beliau memberi dan terus memberi sampai menjadi manusia yang paling
kucintai” (H.R at-Tirmidzi)
Ini adalah kisah yang merupakan kunci
berharga untuk menyibak pribadi tiada tara itu. bahkan seorang musuhpun
mengatakan bukti kesaksiannya, padahal sudah lazimnya musuh mencari-cari
kejelekan bukan kebaikan lawannya.[14] Ini merupakan pribadi yang patut dicontoh
oleh umatnya.
I.
Bersih Jiwanya
Jika kita pelajari sirah Muhammad secara
proporsional akan kita temukan potret yang sesuai antara perkataan dan
perbuatannya, serta akan senantiasa menjelaskan dan menampakkan jiwa beliau
yang agung yang diselimuti akhlak mulia dan tiak tertutupi keangkuhan tidak
pula terhalang rasa riya’. Akhlak Rasul bersih dan suci, tak tercampuri dengan
apa yangdicela manusia kecuali jika orang yang mencelanya telah buta hatinya,
yang melihat kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kebaikan atau
orang yang dengki dan sombong yang telah dibutakan oleh rasa dengki dari
melihat kebenaran yang tidak tersembunyi dari seseorang. Seseorang yang
mengenal Rasulullah SAW dalam zamannya baik kawan maupun lawan pasti mengakui
dalam hatinya bahwa akhlak Muhammad tak bisa dijamah tangan kotor para pencela.
Dahulu, ayah dari istri musuh Nabi yang masih kafir berkata dan perkataan itu
sampai pada putrinya yang menjadi istri Rasulullah SAW tersebut. Perkataannya,
“Dia (Muhammad) adalah lelaki yang tak ada cacat celanya.”
Ikrimah bin Abi Jahal
setelah permusuhan yang panjang bersama ayahnya pada Rasulullah SAW berkata
pada saat masuk Islam, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah semata, tak ada
sekutu bagi-Nya, dan engkau adalah hamba dan utusan-Nya, engkau adalah manusia
paling baik, paling jujur dan paling setia.” Ikrimah berkata, “Aku katakana itu
dengan kepala tertunduk dalam-dalam karena sangat malu pada beliau.”[15]
J.
Amanah
Amanah menurut bahasa (etimologi) ialah
kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan (istiqomah) atau kejujuran. Betapa
pentingnya sifat dan sikap amanah ini dipertahankan sebagai akhlakul karimah
dalam masyarakat, jika sifat dan sikap itu hilang dari tatanan sosial umat
Islam, maka kehancuranlah yang akan terjadi bagi umat itu.[16]
Rasulullah saw mempunyai sifat
al-Iltizamul Kamil atau komitmen dan sifat amanah yang sempurna dengan apa yang
ia serukan, sebagai wakil dari Allah. Tugas
Rasul adalah menyampaikan manusia risalah yang dibebankan oleh Allah
kepada mereka. Apabila seorang rasul sendiri tidak menegakkan kandungan risalah
itu, maka hal itu menunjukkan bahwa ia tidak berinteraksi dengan isi risalah
tersebut dan itu menjadi bukti kedustaannya dalam menyampaikan risalah. Seorang
Rasul yang mempunyai hubungan langsung dengan Allah, pastilah amat mengerti tentang
keagungan Allah dan tidak mungkin melanggar perintah Allah. Tidakan melanggar
perintah Allah adalah suatu pengkhianatan kepada-Nya, dan orang-orang yang
tidak amanah tetunya tidak pantas mengemban risalah.[17]
K.
Sabar
Sabar secara terminology berarti menahan
diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharapkan ridho Allah
SWT. Sabar secara luas bisa diartikan sebagai sikap tak gelisah (jaz’ an nafs)
ketika tertimpa musibah akan tetapi pengertian ini meluas hingga lebih banyak
lagi dari ini sesuai dengan keragaman kaitan yang lebih lanjut berimplikasi
pada perbedaan istilahnya. Dalam beberapa kondisi khusus, sabar juga disebut
dengan istilah ‘iffah, control diri (dhabth an nafs), berani, kemurahan (hilm),
lapang dada, zuhud dan qana’ah.
Dengan demikian, perilaku sabar nyaris
meliputi sebagian besar perilaku-perilaku utama. Al-Ghozali mengatakan : “Terpuji yang sempurna adalah kesabaran
diri untuk tidak melahap segala sesuatu yang dihasrati watak atau tabi’at dan
dituntut hawa nafsu.”
Sebagian besar akhlak keimanan masuk
dalam bingkai kesabaran. Karena itu, ketika ditanya mengenai iman, Rasulullah
SAW. bersabda, “Ia adalah sabar”, sebab sabar merupakan amal keimanan yang
paling banyak dan paling mulia.[18]
Rasulullah SAW. telah
mengimplementasikan segala macam sabar dalam kehidupan beliau sehari-hari,
dimana sabar beliau jadikan perisai yang ampuh dalam menghadapi berbagai
tantangan dan hambatan terutama dalam menjalankan misi dakwahnya. Selama tiga
belas tahun berdakwah di kota Mekkah banyak skali tantangan dari kaum Quraisy
yang tidak mau menerima misi dakwahnya yang disampaikan. Berbagai tantangan dan
hambatan, yang diperhadapkan kepada-Nya, misalnya dihina, disakiti perasaannya,
dizalimi, baik dengan perbuatan maupun perkataan dan lain sebagainya. Namun
tidak menyurutkan semangat perjuangannya. Beliau tetap berpegang dengan firman
Allah SWT (QS. 73:10) yang artinya Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka
ucapkan dan jauhilah mereka dengan jalan yang baik.
L.
Menjaga Rahasia
Menjaga rahasia merupakan akhlak setiap
muslim, apalagi rahasia tersebut berupa aib saudara dan keluarga, siapa yang
bisa menjaga rahasia saudaranya,maka dia akan ditutup juga rahasianya oleh
Allah.
Suatu hari Rasulullah saw naik ke ata
mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi “Janganlah kalian menyakiti kaum
muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka.
Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesame muslim, Allah akan
mencari-cari auatnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia
berada ditengah tempat tinggalnya.” (Dari Abdullah bin ‘Umar)
Dalam hadits diatas, Rasulullah
menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan. Nabi SAW
menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib
saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, jauh
dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.[19]
M.
Makan yang Halal
Termasuk dalam kelebihan Muhammad SAW
adalah beliau tak pernah memakan barang haram. Sesungguhnya taraf yang demikian
bisa juga dicapai oleh sebagian orang. Namun keistimewaan nya adalah bahwa
Muhammad SAW juga mengharamkan diri untuk memakan yang halal apabila makanan halal tersebut menurunkan derajat maqamnya.
Rasulullah apabila mendapatkan kiriman selalu bertanya, “Ini
sedekah atau hadiah?” bila dikatakan bahwa itu sedekah, maka beliau tidak
memakannya. Bila dikatakan sebagai hadiah, beliau memakannya. (H.R at-Tirmidzi)
Rasulullah tidak mau memakan sedekah walau dengan kerelaan
pemiliknya. Sungguh kuat daya tehannya untuk memelihara kesucian diri bahkan
Rasulullah juga mengharapkan bagi dirinya harta-harta zakat yang merupakan
harta masyarakat. Ketetapannya yang abadi dan cemerlang dalam sejarah adalah
“Sedekah tidak dihalalkan bagi kami, dan budak-budak suatu kaum merupakan dari
kaum itu.” (H.R at-Tirmidzi).[20]
PENUTUP
Dari materi diatas
dapat disimpulkan bahwa akhlak Rasulullah SAW bermuara kepada cinta kepada
Allah, dan teladannya yang baik patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari,
Karena Allah telah memberikan sosok seorang utusan dengan akhlak yang mulia,
akhlak Rasulullah sebagai akhlak Al-Qur’an, maka kita sebagai umatnya wajib
mengikuti apa yang telah diperintahkan olehnya, karena ia merupakan Uswah
Hasanah untuk kita umatnya (Q.S al-Ahzab: 21).
Dengan
sifat-sifat dari akhlak Rasul yang telah disebutkan diatas berupa niat, malu,
adil, amal, amar ma’ruf nahi munkar, jujur, tawakkal, murah hati, bersih
jiwanya, amanah, sabar, menjaga rahasia dan makan yang halal juga sifat-sifat
Nabi yang lain merupakan panutan yang baik bagi kita semua untuk diteladani
dikehidupan sehari-hari.
Demikian
penjelasan dari kami mengenai akhlak Nabi SAW yang berupa Cinta kepada Allah
SWT. Kami mohon maaf karena makalah ini tidak jauh dari kesalahan, maka dari itu
kami membutuhkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan makalah
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfa’at untuk kita semua.
Abdullah, M. Yatimin. Studi Akhlak dalam
Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Amzah. 2007.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. Mutiara Hadis 1. Semarang: Pustaka Rizky Putra. 2002.
Az-Zahrani, Musfir
bin Said. Konseling Terapi. Jakarta:
Gema Insani Press. 2005.
Hajjaj,
Muhammad Fauqi. Tasawuf Islam dan Akhlak.
Jakarta:
Amzah. 2011.
Hawwa, Said.
Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jakarta: Gema Insani. 2007.
Mahmud, Ali Abdul Halim.
Akhlak Mulia.
Jakarta:
Gema Insani. 2004.
Noer
, Jefry. Shalat yang Benar. Jakarta: Prenada Media. 2006.
Qayyim, Ibnu.
Risalah Tabukiyah. Yaman: Maktabah Dar Al-Quds.
Syalabi, Mahmud.
Kepribadian Rasulullah. Solo: Pustaka Mantiq. 1996.
Diakses pada 17
Desember 2014 dari http://andrezyrus.wordpress.com.
Diakses pada 17
Desember 2014 dari http://buyaathaillah.wordpress.com.
Diakses pada 18
Desember 2014 dari http://Gemirasolok.blogspot.com.
Diakses pada 12 Desember
2014 dari https://huliyyu.wordpress.com.
Diakses pada 12
Desember 2014 dari http://syfakumala.blogspot.com.
[1] Diakses pada 12 Desember
2014 dari https://huliyyu.wordpress.com.
[2] Diakses pada 12 Desember
2014 dari http://syfakumala.blogspot.com.
[3] Teungku
Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara
Hadis 1, (Semarang: Pustaka Rizky Putra, 2002), h.4.
[4] Jefry
Noer, Shalat yang Benar, (Jakarta:
Prenada Media, 2006), h.3.
[5] M.
Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an,
(Jakarta: Amzah, 2007), h.45.
[6] Musfir bin Said
Az-Zahrani, Konseling Terapi,
(Jakarta: Gema Insani Press, 2005), h.221-225.
[7] M.
Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam
Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.43.
[8] Ibnu
Qayyim, Risalah Tabukiyah, (Yaman:
Maktabah Dar Al-Quds), h.63.
[9] Ali Abdul
Halim Mahmud, Akhlak Mulia, (Jakarta:
Gema Insani, 2004), h.251.
[10] Diakses pada 17 Desember
2014 dari http://buyaathaillah.wordpress.com.
[11] Diakses pada 17 Desember
2014 dari http://andrezyrus.wordpress.com.
[12] Said
Hawwa, Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, (Jakarta: Gema Insani, 2007), h.29.
[13] M.Yatimin
Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an,
(Jakarta: Amzah,
2007), h.204-205.
[14] Mahmud
Syalabi, Kepribadian Rasulullah, (Solo:
Pustaka Mantiq, 1996), h.108.
[15] Said
Hawwa, Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, (Jakarta: Gema Insani, 2007), h.160-161.
[16] M.
Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam
Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.43.
[17] Said
Hawwa, Ar-rasuul shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, (Jakarta: Gema Insani, 2007), h.28.
[18] Muhammad
Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam dan Akhlak,
(Jakarta: Amzah, 2011),h. 304-305.
[19] Diakses pada 18 Desember
2014 dari http://Gemirasolok.blogspot.com.
[20] Mahmud
Syalabi, Kepribadian Rasulullah, (Solo:
Pustaka Mantiq,
1996), h.106.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar